Jumat, 23 November 2012

Sejarah Perkembangan Festival Film Indonesia

https://lh6.googleusercontent.com/-NA0Gtfe_6BY/TX4sk79wtOI/AAAAAAAAEt8/ZZXb0j9cNW8/s320/z+14+Mar.+11+-+Festival+Film+Indonesia+Pertama+th.1955++01.jpgFestival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. FFI pertama kali


diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut pada tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973.

Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan. FFI sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Pada perkembangannya, diberikan juga penghargaan Piala Vidia untuk film televisi.

Pada tahun 1966 mulai diberikan Piala Citra kepada pemenang penghargaan. Piala Citra yang dipergunakan hingga FFI 2007 ini merupakan hasil rancangan dari seniman patung (Alm) Sidharta. Ketika FFI yang semula diselenggarakan Yayasan Film Indonesia (YFI) diambil alih oleh pemerintah, tahun 1979, Piala Citra pun disahkan oleh Menteri Penerangan masa itu, yaitu Ali Murtopo.

Citra sendiri yang berarti 'bayangan' atau 'image' awalnya adalah sebuah sajak karya Usmar Ismail. Sajak ini kemudian dijadikan sebagai karya lagu oleh Cornel Simanjuntak. Berikutnya Usmar Ismail menjadikannya sebagai sebuah film. Dalam tradisi FFI, Citra kemudian dijadikan nama piala sebagai simbol supremasi prestasi tertinggi untuk bidang perfilman.[1]

Sebelumnya ada beberapa nama yang diusulkan untuk Piala ini yaitu:

Citra (Bayangan Wajah)
Mayarupa (Bayangan yang Terwujudkan)
Kumara (Cahaya Badan)
Wijayandaru (Cahaya Kemenangan)
Wijacipta (Kreasi Besar)
Prabangkara (Nama Ahli Sungging Majapahit)
Mpu Kanwa (Nama Sastrawan Majapahit)

Pada FFI 2008 mulai digunakan Piala Citra bentuk baru. Sejumlah seniman seni rupa dan seni patung bekerja membuat rancangan Piala Citra dengan memodifikasi desain Piala Citra yang terwujud selama ini yaitu Heru S. Sudjarwo, S.Sn (Kordinator), Prof. Drs. Yusuf Affendi MA, Drs. H. Dan Hisman Kartakusumah, Indros Sungkowo dan Bambang Noorcahyo, S.Sn.[2] Rancangan baru ini akan menjadi simbol bagi semangat baru penyelenggaraan FFI.

Senin, 19 November 2012

contoh photo profil











Selasa, 13 November 2012

Perfilman Indonesia di ambang kehancuran kedua?


Percaya kah anda kalau  penonton film Indonesia di tahun 1990 pernah mencapai 312 juta per tahun (34-43% penduduk Indonesia menonton film Indonesia 4-5 kali pertahun) dan bioskop yg di miliki sekitar 2.600 dengan 2.853 layar? Di banding tahun 2011 di mana penonton film Indonesia hanya mencapai 14 juta, dan sinepleks yg ada cuman 139  dengan 619 layar.
Sebuah gap yg sangat signifikan.

Padahal waktu di tahun 2008 ketika perfilman Indonesia sedang mengalami kebangkitan, penonton film Indonesia mencapai 32 juta, dan di estimasi akan naik setiap tahun tetapi tahun-tahun berikutnya malah terjadi perosotan yg cukup tajam. (2009=30 juta, 2010=16 juta)
Apa yg terjadi?

Kelemahan kualitas cerita di film kita pasti  menjadi salah satu faktor penting untuk kontribusi penurunan di mana penonton sudah bosan melihat film-film yg tidak berbobot, tetapi ada lagi faktor-faktor signifikan lain yg membantu membawa perfilman Indonesia ke kehancuran kedua. Sayangnya faktor-faktor ini sebenarnya bisa di cegah oleh pemerintah tetapi  seperti biasanya pemerintah kita selalu lambat/tidak peduli dengan situasi perfilman nasional.

Misalnya keterbatasan bioskop untuk menyerapi penonton di seluruh penjuru negara. Dominasi sinepleks 21 di dekade 90′an yg juga mempunyai jaringan importir film  sendiri otomatis dalam semalam menghancurkan bioskop-bioskop independen di seluruh pelosok negara. Sehingga mulai saat itu, bioskop-bioskop hanya berkonkenstrasi di mal-mal kota besar.  Lucunya, baru-baru ini ada investor dari Korea selatan bernama Lotte cinema yg mau membangun 100 bioskop tetapi di larang pemerintah dengan alasan pemerintah mau memberikan investor lokal kesempatan bertanam modal dulu. Sepertinya pemerintah mementingkan kepentingan nasional tetapi malah merugikan perfilman Indonesia yg sedang kekurangan tempat pemutaran.
Minimnya outlet pemutaran film Indonesia juga  berarti mereka musti bersaing dengan film-film Hollywood yg berjumlah lebih banyak, sehingga penayangan film lokal banyak di korbankan jika tidak memenuhi kuota penonton. Berkurangnya masa tayang/tempat pemutaran otomatis mengurangi kesempatan penonton kita untuk menonton film lokal. Belum lagi harga tiket secara pelan-pelan merambat naik karena harga sewa tempat di mal-mal semakin naik sehingga film-film yg di targetkan untuk ‘kelas bawah’ dan remaja (setengah dari jumlah produksi film lokal) akan kehilangan penonton karena daya beli mereka yg terbatas. 21 juga bisa semena-mena menaikan harga karena tidak adanya kompetisi yg berarti dan juga pengawasan pemerintah soal kenaikan harga tiket masih belum ada. Kalau di negara-negara yg mempunyai kultur film kuat seperti Inggris/Australia mereka menaikan harga tiket film untuk membantu subsidi film lokal tetapi di Indonesia sendiri peran pemerintah untuk membantu film lokal masih tidak jelas.

Belum lagi masalah baru, konversi film proyektor dari analog ke digital. Sekilas sepertinya dengan kemurahan proyektor digital, biaya produksi film lokal akan lebih murah karena shooting dengan kamera digital bisa langsung di proses tanpa perlu di transfer ke celluloid copy dulu tetapi justru tanpa menggunakan proyektor analog harga film impor pasti jauh lebih murah karena tidak perlu lagi copy celluloid juga sehingga film impor bisa di tayangkan sebanyak-banyaknya (satu film bisa langsung di tayangkan ke beberapa layar) dan yg pasti film lokal akan di korbankan duluan. Yg mencurigakan lagi kemungkinan besar konversi digital proyektor itu juga di pegang oleh salah satu anggota keluarga 21 sehingga monopoli mereka akan penayangan film di Indonesia  bertambah komplit.

Yg memaksakan konversi digital proyektor adalah dari MPA (Motion Pictures Association) yg beranggotakan enam studio besar di Hollywood. Ironisnya di Amerika sendiri, konversi digital proyektor di akhir 2010 baru mencapai 25% dari sekitar 6000 bioskop. Sementara untuk Indonesia, MPA memberi batas waktu sampai 2015 untuk konversi total ke digital karena sehabis itu film impor dari Hollywood akan berupa digital sehingga otomatis mematikan bioskop-bioskop kecil yg masih memakai analog proyektor.
Apa tindakan pemerintah?

Syamsul Lussa, Direktur Pengambangan Industri Perfilman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam wawancara dengan tabloid Kabar Film, Juli lalu, “Perubahan drastis sedang melanda dunia perfilman saat ini… Ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi di semua negara… Yang pasti kami tidak dapat berbuat lebih jauh, kecuali tetap melihat keberadaan lab yang ada saat ini maupun yang sudah tutup sebagai bagian dari proses sejarah perfilman di Indonesia.”

Artinya, pemerintah hanya pasrah dengan situasi dan tidak akan berbuat apa-apa.
Mereka rela perfilman nasional kita di bully habis-habisan oleh 21 dan MPA. Visi mereka tentang perfilman kita juga tidak transparan dan sulit di tebak. Bagi saya kecondongan pemerintah untuk merelakan dominasi 21 di aspek pemutaran film dan impor sudah keterlaluan dan perlu di selidiki lebih lanjut karena bukan untuk kepentingan film nasional tetapi hanya beberapa pihak. Ironisnya, pemerintah kelihatan sok pamer serius dengan menyatakan perfilman nasional di bawah tanggung jawab dua kementrian;  Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) melalui Ditjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya serta Direktorat Pengembangan Industri Perfilman. Kedua, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Ditjen Kebudayaan dan Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman.

Panjang benar ya? tetapi mereka masih belum punya strategi-strategi konkrit atau aksi nyata di lapangan untuk membela/membangun/memelihara perfilman nasional kecuali menyumbang uang untuk event-event promosi yg tidak penting. Sepertinya budaya pamer tanpa substansi sudah mendarah daging di budaya Indonesia modern dan kehancuran perfilman Indonesia yg kedua akan menjadi bukti kuat atas hasil dari ketidak pedulian pemerintah untuk film nasional, tetapi tidak apa-apa kita masih bisa berteduh nyaman di bioskop 21; membayar tiket mahal untuk menonton Transformers ke 9 lewat digital proyektor sembari  mencicipi popcorn yg sudah masuk angin.

Sumber: filmindonesia.or.id

Potensi Sumut tidak Meningkat Bila Birokrasi Tempatkan Orang yang Salah

Jentera - Minggu, 11 Nov 2012 01:20 WIB


Oleh: Syafitri Tambunan. Film sebagai proses kreatif, sebenarnya telah menjadi industri berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat secara ekonomi, serta meningkatkan martabat budaya Indonesia. Alasannya, memproduksi sebuah film akan melahirkan banyak lapangan kerja yang selalu bersinergi melahirkan karya audio visual ini.
Belum lagi, budaya ini akan mencuat bila mampu menembus angka pemutaran film terbanyak dengan menyertakan tanah Indonesia sebagai latar atau lokasi shottingnya. Selain itu tentunya, menyejahterakan insan film, pendukung pelaksana ide kreatif lain, maupun pihak lain. Tidak jarang efek yang timbul adalah pengenalan budaya ke berbagai dunia.

Bahkan, seringkali pemerintah, yang tidak terlibat langsung dalam produksi film itu, mampu mengangkat kepala bila seorang insan film atau sebuah film menjadi booming di luar negeri. Dian Sastrowardoyo, saat berdiri di red carpet Festival Film Cannes tahun ini, mampu menyita perhatian dunia dengan potensinya sebagai aktor. Saat itu, banyak negara secara tidak langsung mengangkat Indonesia dari berbagai sisi.

Banyak orang saat itu mempertanyakan gaun yang dikenakan, asal kelahiran sang aktris, film yang dibintanginya, ataupun lokasi shotting sang aktris melakukan proses shooting. Bila bisa mendeskripsikan jawabannya, pastinya akan banyak kata Indonesia yang bergaung. Misalnya gaun yang didesain oleh anak berbangsa Indonesia, lokasi perfilman di sebuah daerah di Indonesia ataupun sejumlah film Indonesia yang dibintanginya. Salah satunya Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Film sang aktris sendiri merupakan salah satu pendongkrak dunia perfilman Indonesia yang sering ‘naik-turun’.

Baik industri perfilman, maupun sekedar desainer Indonesia perancang gaunnya, pasti semakin menimbulkan antusiasme dunia luar terhadap Indonesia, khususnya dunia perfilman Indonesia.

Dalam dekade 10 tahun terakhir, perfilman Indonesia menunjukkan geliatnya kembali. Tampaknya hal ini akan berubah dengan timbulnya persaingan ketat antara karya anak bangsa, dengan film asing, seperti Amerika Serikat (AS), India, Cina, Jepang dan Korea.

Dalam konteks ini, penggiat film Indonesia sebenarnya berpotensi meningkatkan peran film yang awalnya hanya sebagai produk kreatif, menjadi industri baru, seperti negara Boolywood India, ataupun Holywood AS. Perlu dukungan yang baik antara semua pihak, baik insannya sendiri, masyarakat peminatnya, serta birokrasi di setiap daerah.

Inilah kendala bagi penggiat film di Indonesia, khususnya daerah Sumatera Utara yang dulunya sempat terkenal dengan dibangunnya studio film pertama di Indonesia Jalan Sunggal, Medan. Penggiat-penggiat film Sumut, seperti J. Hendry Norman (Mata Sapi Film), M. Taufik Pradana (Opique Picture), Abdul Azis Lubis (Agung Film Maker), Willy Darmawan (Intermedia Project), Darma Lubis (Sol File Documentary) dan sejumlah nama lainnya memiliki peran mengedukasi masyarakat dalam produk kreatifnya. Meskipun penggiat lokal, mereka mampu melahirkan karya perfilman yang sebenarnya layak menjadi konsumsi publik.

Karena, akan banyak sisi yang diperlihatkan dalam aksi penggiat perfilman Sumut, di antaranya pesan moral, ataupun kebudayaan, serta pengubahan perspektif yang salah. Sisi moral, anak muda seperti J. Hendry Norman punya pandangannya sendiri.

"Film pendek seperti Medan Hardcore, ataupun Kost 208 sebenarnya diproduksi untuk tujuan mengedukasi masyarakat memandang suatu fenomena dari semua perspektif. Medan Hardcore bercerita tentang sekelompok anak muda yang bergelut dalam musik yang identik dengan kekerasan. Masih ada genre hardcore yang tidak melulu tentang seks bebas, ataupun drugs.

Bahkan, ada sekte hardcore yang menjunjung tinggi hubungan intim dengan satu pasangan saja. Setidaknya, pelajaran untuk setia dengan pasangannya bisa dijadikan pesan moral," tuturnya. Dikatakannya, dalam film itu, masyarakat diedukasi untuk mampu menilai dan mengambil pesan film atas sebuah hal dari berbagai sudut pandang, negatif, maupun positif.

Tidak hanya itu, kebudayaan juga menjadi unsur penting yang bisa memberdayakan audio visual sebuah film bagi Indonesia. Berdasarkan keterangan seorang penggiat seni dan film dokumenter, Darma Lubis, film termasuk media yang mampu memuat pesan yang sebenarnya bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat.

"Sebuah film bisa mengubah pandangan seseorang terhadap suatu masalah, salah satunya unsur budaya. Program Film Televisi (FTV) yang ada di media televisi nasional, masa ini, sering menampilkan lokasi atau setting tempat di Bali, Yogya, ataupun Semarang. Meskipun temanya tentang cinta-cintaan, penontonnya juga akan tergerak untuk menelusuri, mencari tau, ataupun sekedar mengagumi lokasi shooting yang dipakai, serta menelusuri budaya daerah tersebut," tuturnya.

Dengan ini, lanjutnya, kota-kota tadi akan mampu menciptakan peminatnya sendiri yang termotivasi berkunjung langsung ke lokasi shotting tersebut. Secara tidak langsung, budaya daerah tersebut akan terus menjadi bahan perbincangan yang baik oleh peminat-peminat film itu.

Sama seperti di Sumut, dia mengatakan, potensi budaya Sumut akan sebanding dengan kota-kota tadi, bahkan menjadi prioritas utama jika mampu menerapkan ide FTV itu dalam industri film Sumut.

Dia membenarkan, peran seluruh sektor menjadi unsur terpenting merealisasikan niat tadi. Bahkan, kendala ini justru mengikat ide kreatif tersebut. "Jika mau, banyak tempat atau bangunan bersejarah di Medan, yang sering tidak diperhatikan, atau terkadang dipakai untuk hal-hal yang tidak penting. Padahal, bila bangunan ataupun lokasi itu dimanfaatkan untuk perfilman, produksi insan-insan seperti kami tidak akan sia-sia ataupun tergeletak di Taman Budaya Sumatera Utara, ataupun kafe-kafe yang sering menerapkan konsep "nonton bareng" dalam manajemennya," tuturnya.

Jika ingin menegaskan kembali, penggiat lokal film dokumenter dan semi dokumenter tadi sepakat, industri perfilman kita mampu menopang hidup negara bahkan budaya sebuah bangsa.

Penjelasannya, sebuah produksi film akan membutuhkan banyak tenaga kerja, di antaranya aktor, sutradara, penulis naskah, editor, penata cahaya, penata musik, dan peran-peran kecil seperti pemegang lampu, pembawa alat shooting, bahkan penyedia konsumsi.

Selain itu, budaya bangsa dan potensi lokal akan semakin berkembang bila pelakunya tidak melulu seorang insan film, namun juga menyertakan peran birokrasi secara benar. "Birokrasi memang sudah mulai memperhatikan dunia ini. Hanya saja, birokrasi belum mampu memilih dan menempatkan petugas-petugas yang laiak di bidangnya. Laiak artinya mengerti dengan bidangnya sendiri.

Bila berhubungan dunia film, birokrasi mesti menempatkan petugas yang memang bersinggungan dengan itu, baik berlatar belakang peminat semata, ataupun berpendidikan dibidang yang berkaitan. Mereka mengutarakan perhatian pemerintah akan efektif bila petugas birokrasi itu memahami kebutuhan insan film Sumut. Sehingga, film lokal kita tidak kalah pamor dengan daerah lain, bahkan secara mendunia, serta berpotensi meningkatkan semua aspek kehidupan.

Begitrulah ketika dalam Pameran Pergelaran Seni Se Sumatera XV, banyak yang kecewa, karena hanya sedikit sekali film yang diputar. Selain itu, nampaknya panitia secara keseluruhan, kelihatan kurang serius. Diskusinya hanya dihadiri segelintir orang saja, tidak ada perwakilan-perwakilan dari 10 propinsi yang ada di Sumatera.

Tidak tiap provinsi mengirkjmkan film mereka. Apakah karena tidak diminta, atau karena memang mereka tidak membuatnya, atau mungkin karena faktor lain? Seperti, pemutaran film itu saja, serasa tidak terpublikasi ke seluruh masyarakat kota Medan.

Panitia PPSS ke XV, terasa seperti kurang memperhatikan pemutaran film pada acara yang ditetapkan, padahal seharusnya, panitia sudah sudah mempublikasikannya secara besar-besaran. Kalau kita mau menggiatkan film di Sumut, kita harus siap untuk itu. Para cineas-cineas muda harus diberikan kesempatan yang luas dan mendapat dukungan yang besar.

Kalau di Jakarta saat lesu film ada istilah, tiada film nasional rampunjabi. Bagaimana dengan Medan? Sedang ada PPSS saja, film kita seperti tidak terapresiasi, bagaimana dengan event-even lain yang tak sebesar PPSS? Kita tunggu saja kerja orang muda sebagai insan film ke depannya.

sumber : http://www.analisadaily.com/

testimoni dari Rufi Community

MARJINAL produksi Opique Picture’s: refresh buat RuFI.


Beberapa hari yang lalu, tepatnya sabtu 3 November 2012 bertempat di salah satu café anak muda di Medan sahabat-sahabat dari Opique Picture’s melakukan premiere film produksi terbaru mereka berjudul MARJINAL. Film berdurasi hampir 2 jam ini bercerita tentang kehidupan beberapa orang ‘pinggiran’ di kota Medan  yang bersahabat lalu dengan kisah kehidupan mereka masing-masing.
Semua penonton terlihat menikmati adegan peradegan dari film ini. Apalagi Ridho Pratama selaku Sutradara di film ini berhasil menghidupkan tokoh Fuad  loh.

Ini tentu menjadi refresh buat komunitas-komunitas film lain di Medan yang saat ini sedang bersemangat terutama RuFI sendiri. Dengan konsep acara yang reggae banget  cukup berhasil membuat suasana malam itu menjadi santai.

Sip deh buat sahabat-sahabat opique picture’s. Ditunggu terus karya-karya yang lainnya yah…


Sabtu, 10 November 2012

Premier Film Marjinal Produksi Opique Pictures Diramaikan Oleh Coconuthead




Malam minggu kemarin (3/11) movie maker indie opique pictures melaksanakan pemutaran di pitu café jalan pinang baris no. 29 Medan. Berbagai kalangan turut meramainkan pemutaran film panjang pertama yang di produksi oleh komunitas ini.

                Coconuthead sebagai pengisi original soundtrack film ini pun turut memeriahkan acara tersebut. Sebelum pemutaran film berlangsung band reggae pertama di Medan ini menunjukan kebolehannya didepan ratusan pasang mata yang menghadiri premier tersebut.

Melaui film ini, opique pictures menunjukan realitas kaum Marjinal di kota Medan. Bahkan banyak terselip kritikan sosial yang sedang melanda khususnya Medan.  Film ini menceritakan sekelompok anak remaja yang hidup di garis kemiskinan. melalui proses bertahan hidup sebagai pengamen di kota besar. bermodalkan mimpi terus-menerus guna menggapai mimpi membuat mereka melakukan kebersamaan susah dan senang. hanya saja himpitan ekonomi kulog yang menyebabkan gelap mata.

Kulog yang tinggal bersama adik kandungnya menjadi tanggung jawabnya pula tuk menyelesaikan pendidikannya. Hanya saja jalan yang ditempuh itu salah. Teman seperjuangannya pun dikorbankan. Jaya teman seperjuangan masuk dalam tipu daya muslihatnya.

Hanya saja jehadiran sosok Sofy menjadi jalan keluar. Cinta yang dimilikinya dapat menyembuhkan segalanya. Dengan usaha keras hingga akhirnya mimpi-mipi mereka memeluk erat mereka.

. Mulai sejak bulan juni 2011 komunitas ini telah memulai praproduksi film marjinal ini. Riedho selaku ketua komunitas menjadi pengagas ide cerita. Menurutnya film tersebut menambahkan keberadaan film ini dilatarbelakangi semakin sedikitnya karya film indie dari Kota Medan beberapa tahun belakangan. Selain itu, banyak film indie Medan yang masih jauh dari yang diharapkan dari segi tema maupun kualitas. “Untuk itu kita coba terus berkarya dan berkreativitas,” katanya.

Produksi  Film Marjinal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas para pecinta film indie di Medan, baik itu pemain dan semua elemen yang ada. Ia berharap kehadiran film ini dapat memberikan pengaruh positif kepada komunitas film lainnya.

 Melalui proses panjang hingga memakan satu setengah tahun teralisasilah film ini. Coconuthead selain mengisi original soundtrack, band ini juga tampil dalam film tersebut. Premier film tersebut ditutup dengan penampilan coconuthead yang membuat seluruh penonton tuk bergoyang.

oleh : m taufik pradana

Jumat, 09 November 2012

Pendaftaran Festival Film Anak 2012

https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/s480x480/486223_4908443435146_69315276_n.jpg
KETENTUAN PARTISIPASI:

PESERTA:
- Peserta adalah tim yang terdiri dari minimal 3 orang anak (berusia 6 - 18 tahun)
- Tim didampingi seorang dewasa (Misalnya: Guru, orang tua salah seorang anggota tim atau staf lembaga pendamping anak)
- Seluruh proses produksi film dan pemeran film minimal 80% adalah anak-anak dan keterlibatan orang dewasa hanya sebagai pembimbing dan perannya tidak lebih dari 20%.
- Minimal seorang dalam tim pernah mengikuti pelatihan atau workshop film anak atau kegiatan pemberdayaan di bidang serupa di tempatnya (Misalnya, di ekskul sekolah atau di luar sekolah)*
- Peserta wajib mengisi formulir dan mengikuti tahapan kegiatan FFA

FILM
- Film yang diikutsertakan berdurasi maksimal 15 menit
- Film yang diikutsertakan tidak mengandung tema-tema bernuansa SARA, pornografi/ pornoaksi, tidak memvisualisasikan kekerasan, tidak mempertunjukkan Drug/Rokok, tidak melanggar hak cipta orang lain baik secara audio maupun visual.
- Film mempromosikan hak anak dan salah satu dari bentuk kota layak anak.
- Screenplay film dikirim dalam format DVD atau AVI sebelum berakhir masa pendaftaran ke Sekteratiat FFA
- Panitia mendapatkan hak publikasi dan sewaktu-waktu dapat mengambil seluruh atau sebagian isi untuk promosi hak anak, hak milik karya cipta tetap pada peserta
- 1`(satu) tim produksi boleh mengirimkan karya lebih dari 1 film dengan formulir terpisah.
- Pengiriman film wajib dalam bentuk hardcopy dengan melampirkan softcopy cover film atau still foto (dalam CD) serta sinopsis sepanjang 30-50 kata
- Film yang sudah diserahkan kepada panitia tidak dapat diambil kembali
- Hasil penjurian bersifat tetap dan tidak dapat diganggu gugat

KETENTUAN TAMBAHAN**
- Tidak melanggar hak anak selama proses pembuatan dan pendampingan (Misalnya, meninggalkan aktifitas sekolah, )
- Kompetisi FFA tahun ini untuk wilayah Sumatera Utara dan Aceh.
- Karya Film Pemenang Kompetisi FFA ke 5 berkesempatan mengikuti kompetisi film nasional.
- Peserta mendapat persetujuan dari orang tua

TAHAPAN KEGIATAN:
- Pendaftaran Partisipasi workshop : 01-10 Oktober 2012
- Workshop: 20-21 Oktober 2012
- Produksi Film: 22 Okt- 04 Desember 2012
- Penyerahan film Deadline 05 Desember 2012
- Verifikasi : 06 – 08 Desember 2012
- Penjurian Film/ Insan Film : 10-11 Desember 2012
Juri-juri:
a) Produser dan Praktisi Film : Onny Kresnawan (SFD)
b) Praktisi Perlindungan Anak : Ahmad Taufan Damanik (Wakil Ketua ACWC)
c) Praktisi Keaktoran : Eddy Siswanto
d) Perwakilan Anak : Ketua Forum Anak North Sumatera (FANS)
e) Wakil Pemerintah : Kepala Biro PPA-KB Provinsi Sumut
f) Psikolog : Fachnita FM

- Publikasi Nominasi Film Terbaik: 11 – 14 Desember 2012
- Malam Penganugerahan FFA 2012: 15 Desember 2012

Rabu, 07 November 2012

noton film indie medan yuk

Pemutaran Film Marjinal Dalam Rangka Gelar Buku, Budaya dan Teknologi 
mulai tgl 8 november mpe sminggu penuh ada pemutaran film
Pespustakaan Daerah Medan
Jl.Brigjend Katamso No.45 K Medan-Indonesia

Jumat, 9 november 2012
Produksi Media Identitas
Judul : Mutiara Di Tengah Danau

 

Sabtu, 10 november 2012
14.00-16.00
Produksi Matasapifilm
Judul : - Medan Hardcore dan
           - Unless 


Minggu, 11 november 2012
Judul : K vs K
dan juga film produksi SOI


Senin, 12 november 2012
Koleksi film dari KSI dan Kami Production 
https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/316582_2536361385929_1767550635_n.jpgSelasa, 13 november 2012 

mulai 10.wib s/d 12.00wib
1.Museum, Sejarah yang terlupakan.
2.Gulungan Uang.
3.Dari Hati

4.Mobile Schools.

14.00wib s/d 16.00wib
5. Marjinal.



Rabu, 14 november 2012
film-film koleksi dari Willy Darmawan (Kiwil)


Kamis, 15 november 2012
film-film koleksi Rufi community dan D'Lick Theatre Team


 

GRATIS !!!


Selasa, 06 November 2012

10 Penyanyi/Band Reggae Made In Indonesia

Munculnya Reggae.
Musik reggae memang mempunyai sejarah yang panjang. reggae tidak hanya sebuah jenis musik bertempo lambat dengan vokal berat saja, tapi juga berhubungan erat dengan kepercayaan, identitas, dan simbol perlawanan terhadap penindasan.
Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady ke irama musik baru yang bertempo lebih lambat. Boleh jadi, peralihan itu terjadi lantaran ingar-bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang cocok dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.


Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti entakan badan orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, soul, rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba), dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento yang kaya dengan irama Afrika.


Musik reggae sendiri pada awalnya lahir dari jalanan Getho (perkampungan kaum Rastafaria) di Kingston, ibu kota Jamaika. Itulah yang menyebabkan gaya rambut gimbal menghiasi para musisi reggae awal dan lirik-lirik lagu reggae sarat dengan muatan ajaran Rastafari, yakni kebebasan, perdamaian, dan keindahan alam, serta gaya hidup bohemian.
Masuknya reggae sebagai salah satu unsur musik dunia yang juga mempengaruhi banyak musisi dunia lainnya, dan membuat aliran musik satu ini menjadi barang konsumsi publik dunia. Gaya rambut gimbal atau dreadlock serta lirik-lirik ‘Rasta’ dalam lagunya pun menjadi konsumsi publik. Dengan kata lain, dreadlock dan ajaran Rasta telah menjadi produksi pop, menjadi budaya pop, seiring berkembangnya musik reggae sebagai sebuah musik pop.


1.Tony Q Rastafara ( Semarang )
 Tony Waluyo Sukmoasih (populer dengan nama Tony Q atau Tony Q Rastafara lahir di Semarang, Jawa Tengah, 27 April 1961; umur 50 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia beraliran reggae yang telah aktif di ragam tersebut sejak tahun 1989. Dia bersama grup musiknya Rastafara memopulerkan istilah "rambut gimbal" (gaya rambut dreadlock) di Indonesia lewat lagu dengan judul yang sama pada tahun 1996. Tony Q telah menjadi ikon musik reggae Indonesia. Dia dianggap sebagai pelopor reggae di Indonesia, karena dia tak hanya berkecimpung di ragam tersebut sejak lama, namun juga mengembangkan karakter musik reggaenya sendiri, dimana dia memasukkan banyak unsur tradisional Indonesia ke musiknya, dan mengangkat tema-tema khas Indonesia dalam musiknya.


Bersama Rastafara.
Tony Q memulai karier musik reggaenya sejak tahun 1989 dengan grup musik Roots Rock Reggae. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada di Jakarta. Setelah tergabung dengan banyak band reggae seperti Exodus dan Rastaman, akhirnya pada tahun 1994 dia membentuk grup musik Rastafara yang menjadi cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia saat itu. Bersama Rastafara dia sempat merilis dua album, yaitu "Rambut Gimbal" (1996) dan "Gue Falling In Love" (1997).
Hampir semua lagu dalam album tersebut diciptakan Tony Q, dengan lirik lagu yang banyak bertema sosial, kemanusiaan, cinta, dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu lagunya yang populer adalah "Rambut Gimbal", sebuah istilah untuk gaya rambut dreadlock yang kerap digunakan oleh pengikut Gerakan Rastafari, yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia yang menjadi populer karena lagu tersebut.
Rastafara saat itu dinilai berbeda dengan grup musik reggae lainnya karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik dan instrumen tradisional khas Indonesia ke dalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae negara lain seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang Sunda atau Gamelan Jawa ikut menambah warna musik dalam lagu-lagu Rastafara. Dan pada aransemen musiknya sepintas juga terlihat unsur-unsur musik Melayu, musik khas daerah Sumatera Utara, atau Sumatera Barat.
Pada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam musik karena kurangnya pasar musik reggae di Indonesia. Tony Q kemudian melanjutkan kariernya dengan membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band mendapat pemain tambahan. Tetapi kemudian tahun 2000 Tony Q memutuskan untuk memulai karier solo dengan tetap membawa nama grup musik yang telah membuatnya dikenal oleh para penggemarnya, yaitu Tony Q Rastafara.  


2. Ras Muhammad ( Jakarta )
 Ras Muhamad yang lahir di Jakarta hijrah mengikuti keluarganya ke New York City dan tinggal di sana dari tahun 1993 sampai Juli 2005. Perjalanan musikalnya sebagai seorang pemusik, penyanyi dan pengarang lagu yang menjadikannya sebagai solo-ist Reggae berawal sejak ia menjelang remaja, saat ia tinggal di daerah Queens, di kota dunia tersebut. Ras Muhamad pernah membentuk sebuah band rock pada saat di SLA, kemudian membentuk kelompok duet Rap/Hip Hop Duo bernama “Ronin” pada tahun pertama dia di Kolese.


Bagi Ras Muhammad musik Reggae membawa misi yang mulia,jiwa reggae adalah hembusan nafas perdamaian dan persatuan, kesetaraan umat manusia. Reggae menebarkan vibe positif/getaran -getaran positif dan menghindari yang negatif. Reggae adalah perjuangan dan juga bentuk ungkapan atau jeritan kaum papa terhadap ketimpangan sosial dan ketidak adilan.


Inspirasi lagu-lagu Ras Muhammad banyak mengambil dari kejadian-kejadian sehari-hari,lingkungan,keadaan sosial masyarakat kita dan juga pandangan dari berbagai tokoh/pemimpin dunia seperti Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr, King Selassie I, Bung Karno dan negarawan lainya.
Ras Muhammad sampai sejauh ini telah mengeluarkan dua buah album, album yang pertama berjudul "declaration of trurh",pada awal tahun 2005 sebanyak 10 lagu dan beredar di New York, (di Indonesia pernah ditawar Aksara Record untuk dicetak ulang,tetapi Ras Muhammad masih menahanya dulu). Dan album yang kedua berjudul "Reggae Ambasador" sebanyak 15 lagu pada bulan Januari 2007,secara indie dan diedarkan oleh Aksara Record. 


3. Steven And Coconut treezz 

Steven and Coconuttreez adalah sebuah konsep solo beraliran musik Reggae asal Indonesia. Band ini ada karena obsesi Steven, yang juga kakak Micky AFI untuk berkarya. Dengan dukungan banyak musisi, Steven and Coconuttreez berhasil menghasilkan karya-karya yang diangkat dari tema keseharian, baik itu sosial maupun cinta. 
Walaupun musik Reggae cenderung minoritas di Indonesia, namun Steven and Coconuttreez dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia, terbukti dengan banyaknya fans mereka.
Band ini dibentuk pada 2005 oleh 5 orang pria, yaitu Steven (vokal), A Ray (gitar), Teguh (gitar), Rival (bass), Iwan (keyboard), Teddy (perkusi), dan Aci (drum). Mereka sudah menelurkan 3 buah album yang rata-rata bertema sosial, seperti layaknya kebanyakan musik Reggae. Sejak berdiri tahun 2005, album mereka adalah The Other Side (2005), Easy Going (2006), dan Good Atmosphere (2008).


Pada 18 Desember 2007, Steven and Coconuttreez harus kehilangan salah satu personilnya, Teddy (perkusi)yang tutup usia karena menderita sakit paru-paru kronis. Teddy sempat dirawat di rumah sakit dan koma, namun sempat sembuh. 
Gaya hidup Teddy yang sangat tergantung dengan rokok dan kopi membuatnya harus meninggalkan teman-temannya setelah cukup lama sakit paru-paru.


4. Joni Agung & Double T ( Bali )
 Joni agung & Double T adalah sebuah Band yang beraliran REGGAE tetapi dengan format tradisioanal BALI atau REGGAE Berbahasa BALI. Joni Agung & DoubleT bernaung di bawah bendera PREGINA production. Berawal dari keiinginan membesar kan Gendre musik Reggae di tanah air khusus nya bali , yang semakin agak di jauhi oleh penggemar musik reggae , Reggae dulu berkembang di indonesia era tahun 80 an sampai era 90an, maka kami berkumpul dari komunitas yang sama membentuk kembali atau me refresh Double T band yang dulu pernah exsist pada saat itu,dan terbentuklah JONI AGUNG & DOUBLE T 


5. Mbah Surip ( Mojokerto) 
 Urip Achmad Rijanto, atau lebih dikenal dengan Mbah Surip, lahir di Mojokerto, Jawa Timur 6 Mei 1957, meninggal di Jakarta 4 Agustus 2009. Mbah Surip adalah seniman sejati, dia hidup di manapun dan bagaimana pun, tetap jiwa seni melekat di hatinya. Mbah Surip adalah anak keempat dari 7 bersaudara dari Sukotjo (alm.) dan Rasminah (alm.) yang beserta keluarga besarnya tinggal di Jl.Magersari Gang Buntu, kelurahan Magersari Mojokerto, Jawa Timur. Oleh kerabatnya Mbah Surip dikenal sebagai orang yang bersahaja, baik sebelum maupun sesudah populer. Dia sering menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halamannya di Mojokerto untuk nyekar (menabur bunga) di makam kedua orang tuanya di TPU Losari, Desa Losari, Kecamatan Gedeg, Mojokerto. 
Mbah Surip meninggal dunia akibat gagal jantung dalam perjalanan menuju Rumah Sakit di Pusdikkes TNI AD, Kramat Jati, Jakarta Timur. Menurut berita, serangan jantung tersebut disebabkan kebiasaan minum kopi dan merokok Mbah Surip yang berat. Album rekaman Mbah Surip yang kemudian dikenal 


Meninggalnya Mbah Surip 
Siapa yang tak kenal dengan pelantun lagu bernuansa ragge “Tak Gendong” Mbah Surip (1949-2009) telah tutup usia tadi pagi sekitar pukul 10.30 wib di rumah sakit PUSDIKKES Jakarta Timur. Mbah Surip bernama asli Urip Ariyanto ini meninggal karena serangan jantung. Pada malam nya , Mbah Surip menginap di salah satu kerabatnya bernama Mamik Prakoso. Pada saat di rumah Mamik, Mbah surip sudah merasakan sakit, akhirny Mamik memanggilkan dokter dan kemudian di beri obat dan istirahat. Berikut adalah sedikit perbincangan antara Mbah Surip dengan Mamik Prakoso.
Malam hari bersama anaknya datang ke rumah mamik prakoso,karena mengakui kalau dirinya kelelahan,selalu di kejar-kejar orang (fans) jika tinggal di rumahnya.
Pagi harinya sempat makan bubur ayam,kemudian mbah surip bilang kalau dirinya tidak enak badan,saat mau dibawa ke RS, mbah surip menolak dengan alasan “nggak,nanti kalau ke RS malah dikejar -kejar orang lagi”, lalu diputuskan untuk memanggil dokter ke rumah Mamik,kemudian mbah surip pun diperiksa dan diberi obat.setelah minum obat pun,mbah Surip kembali istirahat, pamit untuk tidur lagi dan mamik prakoso pamit mandi, kemudian tak lama mamik yg baru selesai mandi di beri kabar oleh kerabat bahwa mbah surip mengeluarkan lendir dari mulutnya,kemudian dibawa ke rumah sakit.
Mbah Surip kini telah tiada, tentunya menyisakan kesedihan yang mendalam bagi pra Fans Mbah Surip.


6. Shaggy Dog ( Yogyakarta )

Shaggydog adalah sebuah band Indonesia yang dibentuk pada 1 Juni 1997 di Jogjakarta. Band ini beranggotakan Heru (vokal), Richard (gitaris), Reymond (lead gitar), Bandizt (bass), Lilik (keyboard), dan Yoyok (drum). Yang unik adalah ke-enam personilnya berprofesi sebagai bartender.


Aliran musik yang mereka usung adalah perpaduan beberapa unsur, seperti ska, reggae, jazz, swing, dan rock and roll. Beberapa band yang mempengaruhi gaya bermusik mereka adalah Cherry Poppin Daddies, Hepcat, Bob Marley, Song Beach Dub Allstars, dan beberapa band lainnya.
Mereka memulai karirnya dengan melakukan beberapa show sebelum akhirnya menelurkan album yang berjudul Shaggydod secara indie. Secara mengejutkan penjualan album ini ini mencapai 20.000 kopi. 
Album kedua mereka pun masih dirilis secara indie pada 2001, yang bertitel Bersama. Album kedua ini benar-benar dihasilkan dengan susah payah, namun menghasilkan kesuksesan yang cukup tinggi. 
Karena ketenaran mereka di dunia rekaman indie, akhirnya pada album ketiga yang berjudul Hot Dogz dirilis di bawah naungan EMI Indonesia pada 2003. 
Tidak hanya di Indonesia, Shaggydog juga sempat diminta oleh perusahaan rekaman di Jepang untuk mengisi kompilasi album Asian Ska Foundation yang digawangi oleh band-band ska se-Asia. Album ini beredar di Jepang, dan Shaggydog mengisi kompilasi ini dengan lagu Second Girl. 

7 . Coconut Head ( Medan )

Coconut Head Band (The 1st Reeggae in Medan) adalah band pertama di kota Medan yang mengusung genre reggae. Coconut Head (CH) dibentuk tanggal 23 April 2005.
Sampai saat ini CH sudah menghasilkan 2 lagu, Hello Brother dan Berdansa (Last Night), yang bisa didengarkan di radio-radio di Kota Medan, Aceh dan beberapa daerah di Pulau Jawa. Dan sekarang ini CH sedang bersiap-siap untuk menyelesaikan full album perdana yang mudah-mudahan bisa diterima oleh pecinta musik Kota Medan dan Indonesia, khususnya para pecinta reggae di Kota Medan dan seluruh Nusantara.
Saat ini personil COCONUT HEAD terdiri dari :
BT : vocal
Imam : gutar
Ndhoi : bass
Aldie : percussions
Kiky : drums

8 . Souljah
Nama Souljah diambil dari kata Soldier yang berarti "pejuang", namun diucapkan dengan logat Jamaica. Tahun 2005 Renhat, Bayu, Dimas, Ari dan Danar bertemu dan membentuk Arigatoo. Arigatoo merekrut Shanty (trumpet) dan Ocha (trumpet) juga Vino (alto saxophone). Namun tak lama Shanty hengkang. Formasi Arigatoo yang terakhir ini bertahan cukup lama sepanjang 1999-2001. Kami menambah satu orang personil lagi yaitu David (trumpet). Renhat memutuskan untuk melanjutkan studi ke Hawaii. Ocha, Ari, dan Dimas juga memilih konsentrasi pada pekerjaannya dan melepaskan atribut anak band mereka. 2002, Renhat dan Dimas kembali bergabung. Kami bertemu Sa'id (toasting/rap), yang menambahkan nuansa lain dalam lagu kami. Album pertama Arigatoo,"Kami Bukan Perawan Lagi" rilis di pasaran pada tahun 2003.Tak lami kami melepaskan Arigatoo dan melahirkan Souljah. Tak hanya ska yang kita mainkan. Tapi juga dance hall, dub, reggae, dan perkimpoian dengan musik lain, seperti heavy metal, drum n bass, dan hip hop. Semua lagu ini dapat dinikmati di album perdana Souljah, BREAKING THE ROOTS. 


9 . Asian Roots 

Grace & Anis : Vocal
Ade: Bass
Hensel: Gitar
Robby Maste; Keyboard
Iye: Perkusi
Dave: Drum
Hendro: Terompet

Asian Root diandaikan sebuah pohon besar, yang tumbuh dan besar dari benua Asia
yang merupakan simbol akar genre reggae dari Asia.
Kenapa milih aliran musik reggae? Hal-hal apa saja yg membuat milih genre ini?
Bagi kami reggae merupakan panggilan musik, karena reggae adalah musik yang mempunyai roh dan keistimewaan dalam memainkannya..

Kalau inspirasi lagu-lagunya dari mana? Influences?
The King of Reggae Bob Marley. UB 40, Aswad, 311, dll.

Kalo punya album sudah berapa album yang dikeluarkan?
Tahun 1990 ada album "Reggae Top Pop". Rencana tahun kami akan merilis album baru dengan sentuhan reggae soul sesuai era saat ini.

10 . Cozy Republic

Meski grup band beraliran reggae masih jarang di Indonesia, namun hal itu tidak bisa dijadikan barometer untuk menentukan prestasi sebuah band reggae misalnya, karena berangkat dari musik yang segmented, tentunya hal tersebut menjadikan tantangan tersendiri bagi penganut musik yang bukan aliran mainstream untuk merebut hati masyarakat musik tanah air.
Mengikut sukses beberapa band reggae terdahulu, Cozy Republic pun mencoba berbagai inovasi untuk menebarkan virus reggae keluar komunitas. Hal ini bisa dilihat ketika band yang diawaki Cozy Bastian (vokal/gitar), Penyot (gitar/backing vocal), Uv (drums), Rival (bass/backing vocal), Indha (keyboard/backing vocal) melakukan kolaborasi untuk hits single terbaru Kalau Jodoh Tak Lari Kemana dari album keduanya dengan salah satu perusahaan produsen handphone (HP) asal negeri tirai bambu, China.