Jumat, 02 Mei 2014

Banyak Kabut di Atas Sana, Bikin & Nonton Film Cara Kita

oleh: Ariani Darmawan
Saya berani traktir masakan termahal di kota ini untuk mereka yang berani mengatakan bahwa ‘membuat film itu mudah’. Tentunya traktiran itu menuntut bincang-bincang santai, karena saya ingin mendengar argumen maupun teori siapa-pun-dia. Bagi saya, membuat film itu sangat rumit (maka tulisan ini terpaksa panjang lebar).

Menjelang akhir 2008, Harlan ‘Bin’ Boer dan Cholil Mahmud dari grup musik Efek Rumah Kaca (ERK) datang ke Rumah Buku/Kineruku (tempat saya bekerja) dan mengutarakan keinginan untuk berkolaborasi membuat sebuah film panjang. Setelah menggodok ide, kami memutuskan untuk menuliskan sebuah skenario film panjang yang terinspirasi musik-musik ERK. Diajaklah teman seperguruan, Tumpal Tampubolon, dan Budi Warsito (rekan kerja di Kineruku). Sebelumnya saya, Budi, dan Tumpal telah menghasilkan film pendek berjudul The Anniversaries yang diproduksi oleh JiFFest dan Salto Films.

Dengan dasar saling menyukai dan menghargai karya satu sama lain, tim skenario dengan semangat melontarkan beberapa ide, hingga akhirnya sepakat untuk mengembangkan skenario yang kini berjudul Di Mana Rafael?. Cerita ini berkisah tentang seorang anak laki-laki yang mencuri seekor kura-kura, dan bagaimana kejadian tersebut membuat heboh kehidupan dua anak lainnya (si pemilik kura-kura, dan seorang anak perempuan yang berusaha keras mengembalikan kura-kura tersebut demi mendapatkan reward handphone). Efek Rumah Kaca nantinya akan merespons skenario ini dengan membuat album baru bertemakan anak-anak, yang sekaligus menjadi soundtrack film.
Setelah melewati satu tahun penulisan, skenario Di Mana Rafael? kini berembel-embel draft 5. Proses penulisan bisa dibilang cukup menyenangkan: ditulis bertiga, kami membagi tugas penulisan dengan masing-masing menulis/memperdalam cerita per karakter. Lalu kami memperhalusnya secara bergantian.

Di tengah-tengah penulisan, saya mengajak teman saya Veronica Kusuma untuk turut serta. Tim kini berintikan 5 orang: saya, Budi, Tumpal, Vero, dan Bin. Kami bertemu rutin tiap 1-2 bulan sekali. Sejalan dengan pembahasan skenario, dibuatlah perkiraan bujet yang spontan membuat kepala kami cenat-cenut. Maklum, saya, Bin dan Vero (yang bertindak sebagai ‘produser’) jarang-jarang melihat figur angka sebesar itu: satu koma sekian milyar. Ini tentunya adalah perhitungan di mana semua pemain, kru mendapatkan uang layak (belum tentu berarti besar), juga peralatan syuting dan pasca-produksi digital yang mumpuni (bukan berarti canggih). Padahal, rata-rata biaya pembuatan film layar lebar di Indonesia adalah 4 kali di atas itu.

Setelah mencermati proposal bujet, saya menemukan beberapa fakta perhitungan: 45% jumlah dana dialokasikan untuk sumber daya manusia (termasuk penulis skenario), 20% digunakan untuk peralatan produksi (kamera, sound), sedangkan 20% untuk pasca produksi (editing dan sound mixing). Saya dan Vero mengutak-atik angka tersebut, hingga  menembus angka di bawah 1. Dengan catatan tim kru utama rela tidak dibayar penuh, dan beberapa peralatan syuting kami pinjam/beli sebagai modal awal. Padahal, setelah membuat film pendek terakhir saya, Sugiharti Halim, diam-diam saya berjanji untuk tidak (lagi) membuat proyek dengan mengajak teman-teman bekerja dengan bayaran persahabatan. Apalagi dalam sebuah proyek film panjang yang menyita waktu banyak, sudah waktunya berusaha lebih profesional.

Angka-angka banyak nol itu otomatis membuat saya –yang membuat film pendek pertama dengan biaya seratus lima puluh ribu rupiah– mulai mengelus dada. Bin yang mengaku membuat rekaman (fenomenal) pertama Efek Rumah Kaca dengan bujet lima belas juta juga berpikir keras. Satu hal yang kami mulai sadari adalah, bujet film panjang memang tidak murah, karena menyangkut sumber daya (ahli) yang tidak sedikit.

Saya yang di awal merencanakan syuting dilakukan dengan 20 kru lalu mengubah strategi untuk bisa melakukan produksi dengan maksimal 10 orang saja. Roberto Rodriguez mampu membuat El Mariachi dengan 1 kru utama, yaitu dia sendiri! Film memukau A Wonderful Town karya Adhitya Assarat seingat saya hanya beranggotakan 15 kru. Saya dan Vero pun pede untuk bisa maju jalan dengan bujet setengah di awal.

Namun pertanyaan mendasar tetap mengganjal: bagaimana cara mendapatkan uang tersebut?
Belum juga mendapat jawaban di atas, kami sudah harus mulai mengasah otak tentang masalah distribusi, satu hal yang sangat fundamental dan sering kali dikesampingkan. Karena biaya yang dikeluarkan untuk membuat film-film pendek saya cukup rendah, praktis sejauh ini saya hanya berpikir singkat tentang masalah distribusi. Dipasang dari festival ke festival sudah cukup memuaskan. Dalam kasus film dokumenter saya yang berjudul Anak Naga Beranak Naga, harapan juga tidak muluk-muluk: sejauh ia bisa direproduksi dalam bentuk DVD dan didistribusikan secara ekonomis ke orang-orang yang membutuhkannya.

Sebetulnya logika yang dipakai dalam membuat karya apa pun sama, yaitu: ‘balik modal’. ‘Balik modal’ di sini bervariasi bentuknya, tapi pada dasarnya diartikan sebagai ‘memuaskan’ –sesuai hakikat karya tersebut. Namun, karena bujet pembuatan film panjang sangat besar, dibutuhkanlah pihak ketiga, yaitu investor/pemodal. Sayangnya, bagi mereka ‘balik modal’ hanya bisa diartikan seharafiah-harafiahnya yaitu: balik modal uang. Kalau tidak dalam bentuk uang pun, pasti ada kompensasi berat yang harus kita lunasi bila pada akhirnya uang tersebut tidak berhasil kita kembalikan. Kami lalu sadar, bahwa keahlian kreatif saja tidak cukup untuk membuat film dengan baik dan benar.

Tapi mari kita definisikan apakah ‘baik dan benar’ itu, dalam sistem pendanaan dan distribusi film di Indonesia.

Di sini saya bicara tentang film popular (berorientasi publik dalam negeri), bukan art-house films yang mayoritas mendapatkan biaya dari pendanaan luar negeri dan diedarkan dari festival ke festival.
Kenyataan mengatakan bahwa penonton terbanyak yang bisa dijaring oleh sebuah film adalah melalui jaringan bioskop 21, dan apabila kami mengajukan proposal ke investor, rasanya tidak ada jalan lain selain mencari keuntungan dari penjualan tiket sebesar mungkin. Sayangnya, hingga kini bioskop 21 belum mau membuka diri untuk proyeksi film secara digital (NB: bujet produksi film secara digital jauh lebih rendah ketimbang seluloid). Itu artinya, pembuat film digital yang hendak memasukkan filmnya ke bioskop 21, haruslah mentransfer dan menggandakan film mereka ke bentuk gulungan seluloid. Dengan perhitungan transfer dan penggandaan 20 kopi film (jumlah yang sangat minim dari total 600-an layar di Indonesia), bujet harus bertambah sekitar 500 juta rupiah.

Pembengkakan bujet tentunya tidak berhenti di situ saja. Karena terlanjur mengeluarkan uang yang besar dalam distribusi, produser film biasanya bertendensi untuk juga habis-habisan di promosi –pemasangan baliho, iklan cetak dan radio, liputan media– demi mendapatkan sebesar-besarnya perhatian calon penonton. Tidak jarang bujet promosi sebuah film sama besar, atau bahkan lebih besar dari bujet produksi film itu sendiri.

Dalam sebuah pertemuan, saya bilang ke Bin, “Kita lupain 21 deh.” Secara bawah sadar pernyataan itu mencerminkan campuran rasa takut atas modal besar distribusi yang belum-belum harus kita pertanggungjawabkan, dan bahwa itikad saya membuat film bukan untuk menguntungkan pihak-pihak pengusaha, tapi sesederhana untuk bisa berkomunikasi dengan para penonton. Bukannya saya keberatan dengan outlet-outlet distribusi yang mengambil untung (semua usaha juga harus untung!), tapi kenapa harus para kreator lokal yang digencet? Bukankah ujung-ujungnya kita adalah konsumen utama para pengusaha tersebut? Jika ini terus berlangsung, maka jangan salahkan para orang tua bahwa anak-anak mereka menjadi semakin konsumtif, bodoh, dan tidak kreatif. Mayoritas sistem yang (terpaksa) mapan di negeri ini tidak memberi jalan bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas.

Secara logis, saya mengutarakan alasan saya pada Bin: “Ini kemungkinan terburuk, tapi sangat mungkin terjadi: Bayangkan kita masuk bioskop 21 dengan bujet pas-pasan, yang artinya tanpa promosi yang cukup. Film kita mulai diputar bioskop 21 hari Rabu. Space iklan jadwal bioskop di koran yang mampu kita bayar hanya 2 x 3 cm. Para moviegoers melihatnya sebagai ‘film Indonesia gak jelas nih’. Hari Sabtu, minim penonton. Konon, banyak tidaknya penonton di hari ini akan menentukan apakah film kita akan lanjut ditayangkan atau tidak. Minggu depannya film kita pun lenyap dari peredaran.” Singkatnya, pembuat film tidak punya hak tayang ataupun daya tawar yang cukup. Modal besar sudah dikeluarkan untuk distribusi dan sedikit promosi, sementara uang yang kembali tidak sampai setengahnya.

Yang saya takutkan bukan hanya kenyataan bahwa film kita tidak cukup meraup penonton di bioskop 21, namun dampak setelah itu. Film yang hanya bertahan sebentar di bioskop otomatis berimej buruk. Kita pun kehilangan momen selanjutnya: penjualan DVD, pemutaran-pemutaran keliling, dan moda-moda distribusi lainnya karena sudah terlanjur dicap ‘film gak laku’. Pembuat film terlilit hutang, karyanya tidak ditonton. Ini lebih buruk dari mimpi buruk.

Mungkin ada yang bertanya: kenapa tidak didistribusikan dahulu secara non-komersial sekaligus tes pasar, dan ketika animo cukup banyak, baru diedarkan secara komersial? Masalahnya, bioskop-bioskop umum di Indonesia (termasuk Blitz) menginginkan pemutaran perdana di tempat mereka. Kasus ini terjadi pada film Belkibolang (antologi karya 9 pembuat film) yang batal diputar di Blitz Jakarta hanya karena film tersebut diputar (sekali saja) seminggu sebelumnya secara non-komersial di Salihara. Padahal bila jeli, pihak bioskop semestinya menganggap pra-pemutaran di tempat lain sebagai promosi awal gratis untuk film yang akan dipasang di tempat mereka.

Lalu apa cara distribusi paling ideal, agar film bermodal pas-pasan bisa meraih penonton sebanyak yang ia mampu, minimal mengembalikan uang produksi?

Sammaria Simanjuntak, pembuat film asal Bandung, membuat film panjang pertamanya, cin(T)a, dengan bujet total sekitar 200 juta. Ia tidak memikirkan permasalahan distribusi hingga filmnya selesai diedit. Dengan buzz yang bergaung keras dan masif (salah satunya adalah berita pemutaran perdana di London), filmnya yang diputar selama enam minggu di Blitz serta roadshow keliling Indonesia berhasil meraup total 30.000-an penonton. Distribusi pun berlanjut dalam bentuk DVD. Menurut saya, ini adalah pencapaian besar bagi sebuah film bermodal kecil.

Keberhasilan distribusi film cin(T)a menunjukkan bahwa sebenarnya masih ada jalan untuk menggiring masyarakat kita menonton film-film layar lebar di luar jalur utama. Juga bagi pembuat film untuk meraih pendapatan minimal untuk mengembalikan modal produksi film-film mereka. Perlu diingat bahwa Blitz Megaplex bertoleransi terhadap film digital (walaupun mereka masih bermasalah dengan kualitas sound).

Pertanyaan berikutnya adalah, dengan distribusi alternatif, masih perlukah kita memutar film secara perdana di bioskop umum?

Bila bujet pas-pasan dan kita bermaksud membuat film untuk dinikmati dan diapresiasi penonton (bukan semata meraup keuntungan), apakah bioskop umum adalah eksibitor paling cocok? Kami lalu berpikir untuk mengeluarkan film Di Mana Rafael? secara straight-to-DVDs. Tentu DVD harus dikemas semenarik mungkin, disertai bonus-bonus ciamik. Dengan cara ini film kami punya potensi untuk lebih berumur panjang, asal disertai promosi/reminder yang baik dari masa ke masa.
Ini sejalan dengan teori The Long Tail-nya Chris Anderson, editor-in-chief majalah Wired. Ia mengatakan bahwa kita sekarang telah sampai pada sebuah model baru ekonomi, di mana tren lama: Jual-sebanyak-banyaknya-hari-ini telah berubah menjadi tren baru: Jual-sedikit-tapi-terus-menerus. Ia juga mengamati bagaimana jumlah penjualan buku/musik/film best-seller di toko online kini terkalahkan dengan karya-karya ‘terlewat’ yang bisa jadi diterbitkan puluhan tahun lalu. Belum lagi bila kita melihat kecenderungan masyarakat masa kini yang mendewakan tren masa lalu. Bagaimana yang sedikit ini agar bisa terus-menerus diakses orang? Kita memang membutuhkan lebih banyak lagi situs-situs dan outlet-outlet distribusi/eksibisi dengan keberpihakan yang jelas: para kreatif yang berani membuat karya segar bergizi, dan konsumen lokal. Dalam kasus film, mereka adalah masyarakat penonton yang jengah dengan film-film Indonesia murahan yang setiap harinya menyesaki bioskop kita. Hanya dengan demikian pasar baru bisa diciptakan.

Soal ide straight-to-DVDs, publik bicara tentang beberapa kekurangan:
memang lebih ideal untuk memutar film kita di ruang bioskop dengan kualitas audio visual yang memadai; format DVD (home video) meniadakan kemungkinan sebuah film memberi makna bagi ruang publik; dan siapa investor yang sudi membiayai sebuah film yang hanya akan diproduksi dalam bentuk DVD, dengan pengembalian uang jangka panjang (atau panjang sekali)?

Jawaban saya adalah: bukan berarti setelah keluar dalam bentuk DVD sebuah film akan berhenti berbicara dengan penontonnya. Bila keinginan pembuat dan penonton film adalah untuk berkomunikasi secara langsung, sangat mungkin bagi mereka yang berkepentingan untuk mengorganisasi pemutaran-pemutaran khusus (di kota-kota tertentu), dengan syarat minimal jumlah penonton dan kelayakan perangkat audio visual. Ini justru akan melahirkan kemunculan bioskop-bioskop alternatif secara merata di kota-kota Indonesia. Dengan kata lain: tidak hanya pembuat film yang memaknai proses distribusi (cara baru)-nya, tapi juga para penonton dan penggiat film.

Selain DVD, seperti digambarkan di bagan di atas, kita memiliki beberapa cara distribusi lain yang mungkin tidak bisa langsung mencapai banyak penonton, melainkan secara perlahan dan gradual. Melalui internet, layar tancap, atau pemutaran khusus/regular di bioskop alternatif, distribusi bisa dijalankan secara custom dan terkontrol karena tidak menyangkut pihak-pihak pengusaha berkapital besar (pemilik saluran TV, pemilik bioskop) yang berada di luar jangkauan kita.

Pengembangan bioskop-bioskop alternatif di kota-kota seluruh Indonesia ini sebenarnya bisa dijadikan peluang usaha distribusi film, penyewaan ruangan, alat audio/visual, maupun event organizer setempat. Satu hal yang perlu diubah dalam pemutaran bioskop alternatif adalah membuatnya berbayar seperti layaknya bioskop umum. Sangat wajar bagi tim organizer untuk menerapkan sistem ticketing, kecuali penyelenggara telah mendapatkan sponsor penuh untuk pemutaran film. Dana yang didapatkan tidak hanya berfungsi menutup biaya pemutaran film, tetapi juga meningkatkan kepedulian para penonton film terhadap film-film lokal. Dengan cara inilah kualitas profesi pekerja, penonton film, penggiat film, serta film-film Indonesia dapat naik kelas.
Cara baru distribusi ini tentunya akan melahirkan cara-cara baru pula pada pendanaan film di Indonesia.

Dengan anggapan bahwa bioskop umum bukan satu-satunya moda distribusi, kita membuka kemungkinan baru dalam sistem pendanaan film, yaitu mendekatkan komponen utama hulu dan hilir film: pembuat dan penonton. Untuk teman-teman yang belum pernah menengok situs kickstarter.com, silakan kunjungi dan pelajari. Dengan tagline “Fund and Follow Creativity“, situs tersebut mempertemukan para kreatif dengan calon penikmat (yang juga sekaligus pendana karya mereka). Kelebihannya? Ketika produk jadi, mereka menjadi orang-orang pertama yang berkesempatan menikmati produk tersebut sesuai dengan cara dan kebutuhan mereka.


Dalam hal ini, para kreator dituntut untuk berkarya sekreatif mungkin, tidak hanya dalam membuat produk, tapi pilihan-pilihan ‘reward atas donasi’ yang mereka tawarkan kepada pendana mereka. Dalam contoh kasus di kickstarter.com, sebuah film romantik komedi berjudul SPLIT berhasil meraih dana lebih dari yang mereka butuhkan yaitu $ 20,000. Si kreator memberikan macam-macam opsi reward atas donasi pendana, mulai dari $10 mendapatkan panel storyboard asli; $100 mendapatkan DVD, special thanks di credit title film, mini poster yang ditandatangani sutradara; hingga $5000 menonton film bersama si pembuat, tiket pemutaran perdana film, dan meet & greet bersama cast dan kru.

Dengan cara semacam ini, sistem pendanaan oleh investor/sponsor besar dapat direduksi oleh keberadaan investor-investor kecil dalam jumlah banyak, yaitu para penikmat film itu sendiri. Cara ini juga membuka kesempatan bagi para penikmat film untuk terlibat dan mengikuti proses penciptaan film-film yang ingin mereka tonton. Besarnya donasi tentu lebih tinggi dari harga tiket nonton bioskop, tapi reward yang didapatkan jauh lebih berarti karena didesain secara personal dan terbatas.

Secara ideal, cara ini menyederhanakan tidak hanya masalah pendanaan, tetapi juga promosi film. Dengan terciptanya kumpulan calon penonton/pendana/follower, promosi tidak lagi dilakukan secara terpusat oleh baliho/iklan cetak tapi secara organik diedarkan melalui jaringan-jaringan sosial, dari mulut ke mulut, jauh sebelum hingga sesudah karya tersebut beredar. Pasar yang besar bermula dari individu-individu kecil yang memiliki ketertarikan dan kepentingan sama.

Tentu tidak semua film yang mencari dana dengan cara ini akan mendapat dukungan sesuai harapan. Justru wadah semacam kickstarter.com ini adalah lahan uji yang baik bagi produk-produk berorientasi publik. Sinopsis film dan opsi reward yang menarik, juga latar belakang kreator yang meyakinkan akan lebih dilirik oleh calon pendana. Keahlian para kreator dituntut berkembang, sejalan dengan meningkatnya kepedulian para penonton/pendana.

Bila Anda membaca tulisan ini dan berpikir: ribet banget ya bikin film. Atau para penonton mungkin bertanya: duh, kok gak bisa sesimpel dateng ke bioskop, beli karcis, dan nonton sih?

Jawabannya: saya juga tidak akan menulis panjang lebar (atau bahkan tidak perlu menulis) jika iklim perfilman di negeri ini sehat-sehat saja. Tapi lihat bioskop umum kita, bahkan katanya film impor sebentar lagi akan berhenti diedarkan. Artinya, yang tinggal hanya film-film Indonesia yang mayoritas busuk; beredar hanya demi meraup keuntungan tanpa memikirkan isi dan kesegaran bentuk. Sebagai pembuat maupun penikmat film, saya menolak untuk membuat atau menonton film-film semacam itu. Seperti halnya negeri ini, segala yang berada di pusaran atas sudah gelap berkabut; hidup kita dipenuhi kepentingan politik dan ekonomi segelintir orang-orang picik (dan licik). Tapi saya yakin, kita yang berada di pusaran bawah ini lebih dari sekadar orang-orang kecil. Kita bisa punya andil besar asal berani menentukan jalan sendiri. Saya yakin cara pendistribusian film yang baru akan melahirkan cara pendanaan film yang baru, dan kontekstual.

Tentu saya tidak ingin sekadar banyak omong. Saya bersama beberapa teman yang sama-sama sedang berusaha membuat film masing-masing secara independen, sedang membangun sebuah
wadah/platform semacam kickstarter.com, berkonsentrasi khusus pada pendanaan film-film panjang (fiksi maupun dokumenter) Indonesia. Kami sadar usaha ini butuh pemikiran mendalam, waktu, dan dana tidak sedikit. Namun di atas itu semua, yang sangat dibutuhkan adalah kesadaran dan kepedulian bersama para pembuat dan penonton film Indonesia. Kita yang sadar perfilman negeri ini sudah bobrok mungkin bisa berhenti mengeluh, dan mulai melakukan sesuatu. Dengan cara baru. [ ]

Membuat Film Itu Tidak Harus Mahal

filmPengertian membuat film bagi sebagian banyak orang awam termasuk sesuatu yang mahal, itu merupakan anggapan salah dan masih dibawa sampai sekarang. Jika anggapan tersebut di masa 20 atau 30 tahun yang lalu ya wajar dan bisa dimaklumi bahwa untuk membuat film dibutuhkan modal gede dengan kru yang bejibun seperti dipasar serta ribet dalam memasarkan atau minimal mempertontonkan pada orang lain.

Pada saat ini teknologi dan informasi sudah berkembang semakin modern sehingga memudahkan pengguna dalam melakukan pekerjaannya termasuk pada bidang sinematografi. Sebagai contoh jika ingin merekam gambar jaman dulu harus menggunakan kamera sebesar koper untuk mendapatkan kualitas bagus, tapi sekarang itu bukan menjadi patokan lagi. Kamera semi pro dan profesional sekarang sudah berukuran kecil hingga tidak membuat pegal pundak dan tangan selama dipergunakan serta mudah dibawa dalam kondisi apapun.

Nah seringkali ada komentar-komentar menggelitik bikin geli seperti dibawah ini;
  • “Kok pakai kamera video yang kecil mas? Kan bagus kamera gede yang dipanggul itu. Nanti kalau hasilnya jelek gimana hayo?” (busyet Sony DSR PD177 dibilang kamera video abal-abal)
  • “Kamera videonya ini gambarnya bisa bagus ngga’ pak? Soalnya bentuknya kek handycam gitu.” ( Panasonic AG-DVX100 dibilang seperti handycam…parah kuadrat sodara-sodara!)
Gambaran seperti diatas menunjukkan orang masih melihat secara fisik saja tanpa mau tau kemampuannya seperti apa.

Baiklah sekarang kembali lagi ke topik membuat film itu tidak harus mahal. Anda bisa merekam obyek dengan “hanya” menggunakan mini camcorder (handycam) bahkan telefon seluler (yang tentunya ada perangkat kamera-nya). Hah! bikin film pakai handphone?? Nanti aja bahasnya ya :D
Dengan menggunakan perangkat tersebut yang tidak terlalu memerlukan modal besar, seseorang akan dapat membuat film. Pengertian membuat film disini adalah film sederhana yang mempunyai alur (bukan asal rekam sana-sini).

Mengenai kru yang dibutuhkan dalam membuat film pun tidak perlu banyak-banyak, sebagai contoh penulis naskah, juru kamera, dan sutradara bisa dipegang oleh satu orang. Untuk bagian lain bisa disesuaikan dengan kebutuhan selama pengambilan gambar, yang jelas memakai cara minimalis dan yang penting bisa dikerjakan dengan kerjasama tim secara baik.

Pengerjaan pada pasca produksi pun juga dibuat minimalis juga, soal musik latar untuk kebutuhan editing juga bisa dicari dan didapatkan dengan mudah di internet jika memang tidak ada yang punya kemampuan untuk membuat musik sendiri. Musik dan efek dengan lisensi gratis ada banyak jika mau mencarinya, biasanya yang diminta hanya mencantumkan nama pencipta musiknya tersebut dengan tautan ke situs pribadinya di bagian akhir film. Setelah film tersebut jadi bisa dicetak dalam bentuk cakram digital (DVD) dan diunggah (upload) di situs video streaming seperti YouTube, Vimeo, dan yang sejenis itu.

Ini bukan cuma teori, tapi udah benar-benar dipraktekkan. Jadi ya kalau ingin buat film bikin saja, jangan ragu dan berkecil hati bahkan minder menggunakan kelengkapan produksi secara minimalis.
Oh iya, tentang telefon genggam yang dipakai untuk produksi film tadi memang benar, film berjudul OLIVE yang di-sutradarai oleh Hooman Khalili dan dibintangi Gena Rowlands (aktris yang 2 kali masuk nominasi OSCAR) ini dalam produksinya menggunakan kamera Smartphone NOKIA N8 serta lens-adapter 35mm.

10 Langkah Membuat Film Pendek !

Dalam membuat film pendek tidaklah sulit dan mahal. Membuat film pendek yang sederhana hanya membutuhkan biaya kaset dan biaya riset. Namun hal yang paling kuat sebelum membuat film pendek harus mempunyai ide cerita yang nanti bisa berkembang dan berkenlanjutan.
Kita harus menentukan fokus cerita dari film kita. Misalnya pada saat pesta ulang tahun. Maka, fokus ceritanya adalah pesta ulang tahun. Atau saat pergi ke tempat hiburan, fokus ceritanya ya tempat hiburan itu, misalnya, Suatu Hari di Dunia Fantasi/khayalan….
Setelah kita tentukan fokus cerita tinggal ikuti langkah-langkah ini

1. Riset Awal
Kita cari tahu dulu tentang latar belakang yang ingin kita buat film. Kalau serius, riset ini harusnya sangat detail, tetapi kalau mau sederhana, kita bisa saja browsing dulu di internet atau bertanya kepada teman atau orang yang sudah mengalaminya. Kita catat data-data yang kita dapat tadi sebagai bahan referensi.

2. Siapkan Peralatan
Perlengkapan yang diperlukan adalah handycam atau kamera video apa pun beserta baterai dan charger. Jangan lupa bawa juga mikrofon tambahan dan kabel ekstensinya, tripod, dan yang paling penting, kaset-kaset kosong

3. Riset Lapangan
Waktu sampai di tempat tujuan, kita harus melakukan riset lebih dalam dari riset awal yang sudah kita lakukan di rumah. Cocokkan data yang didapat saat riset awal dengan keadaan di lapangan.
Caranya : bisa jalan, ngobrol, dan nongkrong! Santai dan berusaha akrab dengan lingkungan yang akan kita filmkan.

4. Buat Alur Cerita Kasar
Tentukan siapa saja yang mau diangkat sebagai tokoh dalam film. Biasanya, dari hasil riset di lapangan, kita bisa mendapatkan sebuah ide yang lebih spesifik dan menarik untuk diangkat dari ide awal kita di rumah. Misalnya, “Keseharian hidup badut di Dufan”. Kemudian, buatlah alur cerita kasar dari ide tersebut. Misalnya, tugas-tugas si badut di Dufan dan tempat-tempat wajib yang harus didatangi si badut.

5. Buatlah Sinopsis
Cerita singkat tentang seperti apa film yang kita buat ini. Dari sinopsis kita bisa menentukan siapa saja yang harus kita wawancara, daftar pertanyaan untuk setiap wawancara, dan daftar gambar-gambar (footage) yangdibutuhkan di luar wawancara.

6. Syuting atau Pengambilan Gambar
Dari hasil riset, kita sudah tahu di mana saja dan kapan saja orang-orangyang ingin kita wawancara berada. Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk pengambilan gambar. Yang pertama, datangi dan minta izin mereka untuk melakukan wawancara. Ingat, jangan sekali-kali merekam wawancara tanpa izin! Tidak etis dan bisa bikin mereka tidak suka.

Kedua, jangan lupa menggunakan mikrofon tambahan ketika melakukan wawancara, apalagi kalau kita berada di tengah keramaian.

 Ketiga, gunakan daftar pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya sebagai acuan, tetapi jangan terlalu kaku, kita boleh bertanya hal-hal lain di luar daftar tersebut.

Keempat, buat suasana wawancara sesantai mungkin, bertanyalah seperti kita sedang mengobrol biasa. Sebab, keberadaan kamera video bisa membuat orang gugup, jaim, dan tidak bisa menjawab jujur.

Kelima, gunakan tripod bila wawancara berlangsung cukup lama dan tidak dilakukan sambil bergerak.

Keenam, Selesaikan semua wawancara dari daftar orang yang sudah kita buat. Setelah itu rekam semua gambar yangsudah kita tulis dalam daftar footage kita. Kalau kita masih punya waktu dankaset cadangan, kita boleh kok merekam gambar-gambar tambahan lainyang mungkin nanti bisa berguna saat tahap editing.

Ketujuh, setelah semua selesai direkam. Periksa lagi semua daftar yang kita punya. Baca lagi sinopsis awal kita. Apa semua sudah cukup. Jangan sampai ada yang terlupa.

7. Buat Alur Cerita Final
Sesuaikan hasil catatan dengan hasil wawancara yang sudah kita buat. Masih sesuaikah? Harus diubahkah? Ke arah mana harus dikembangkan?

Hal ini sangat mungkin terjadi karena hasil wawancara bisa banget menghasilkan data-data yang lebih banyak dan mungkin berbeda dari apayang sudah kita siapkan sebelumnya. Enggak masalah kok. Perbaiki danbuat sinopsis baru yang bisa disusun dari hasil rekaman yang sudah kita tonton berulang kali.

Setelah selesai, barulah sinopsis final ini bisa jadi panduan untuk mulai mengedit.

8. Mengedit Film
Mulai capture hasil rekaman yang sudah kita pilih sebelumnya ke dalam komputer menggunakan program editing yang biasa kita pakai. Setelah itu susun film kita berdasarkan sinopsis final yang sudah kita buat sebelumnya.

Masukkan footage-footage yang kita sudah rekam. Buat alur semenarik mungkin, jangan terlalu banyak wawancara yang bisa membosankan. Idealnya, panjang film 8-12 menit.

9. Musik Latar atau “Soundtrack”
Tambahkan musik latar yang sesuai, jangan pakai musik orangsembarangan ya! Sebisa mungkin buat musik sendiri atau minta teman yangpandai membuat musik untuk membuatkan music
untuk film ini.

10. Terakhir, koreksi warna atau “color correction”
Masukkan opening title (pilih judul yang catchy dan bisa menggambarkan keseluruhan film), tambahkan credit title, mixing suara, wrap! Jadikan DVD biar bisa ditonton beramai-ramai.

cara membuat naskah film buatan sendiri

ntuk orang2 yg hobby berimajinasi, ayolah berkarya jangan hanya berimajinasi. Imajinasi bisa dikembangkan menjadi suatu hasil karya dan bisa menjadi kebanggaan untuk kita. kali ini saya akan membahas tentang tata cara membuat film sendiri untuk mengembangkan imajinasi kita.
Di dunia broadcast kita dituntut untuk berkarya dan selalu mengasah otak. Semakin banyak pengalaman dan jam terbang kita maka makin besar pula ketrampilan kita.

Didunia perfilman yang fiktif maupun nonfiktif kita bisa membuat suatu karya yang berawal dari khayalan belaka, adapaun cara kita untuk mengembangkannya.

1. kita harus membuat sebuah sinopsis ato ringkasan cerita yang akan kita buat(nggausah panjang2 yg penting mencakup semua dari perkenalan tokoh, tema, isi, konflik, dsb)
contohnya: 

SINOPSIS  :
SUKSES BERSAMA MERAIH CITA – CITA
          Rehan, Diki, dan Aldi adalah 3 orang teman yang sejak kecil terus bersama. Mereka masih duduk di kelas 3 SMK N 2 Rembang. Hidup di desa terpencil dan kehidupan yang serba kecukupan. Biaya hidup dan membayar sekolah selalu bermasalah. Orang tua Diki dan Aldi yang hanya bekerja sebagai buruh tani, kesulitan mencari nafkah untuk anak-anaknya. Berbeda dengan orang tua Rehan yang Kaya. Orang tua Diki dan Aldi bekerja di tempatnya. Walaupun begitu Rehan tidak memilih-milih teman, dia sangat baik dengan Diki dan Aldi.
 
          Setiap hari mereka berangkat ke sekolah bersama, menaiki sepeda sejauh 3km dengan medan jaln di tengah sawah dan hanya setapak saja. Mereka sekolah mengambil jurusan otomotif, sama-sama memiliki keinginan bekerja di ASTRA JAKARTA.
 
          Beberapa bulan kemudian Ujian berlangsung, mereka memiliki keputusan harus berangkat bersama ke Jakarta demi cita-cita kita. Pengumuman kelulusan diumumkan esok hari. Para orang tua dan para murid berkumpul di sekolah. Rehan, Diki, dan Aldicemas, mereka takut jika tidak lulus/gagal. Setelah diumumkan, Rehan, Diki, dan Aldi menemui orang tuanya masing-masing. Sungguh tak diduga Rehan tidak lulus ujian, dia menangis tersedu-sedu. Diki dan Aldi yang ikut sedih mendekati rehan dan mereka berpelukan. Rehan akan mengulang lagi sekolahnya 1 tahun.
 
          Beberapa minggu kemudian Diki dan Aldi mendapat surat panggilan pekerjaan. Setelah dibuka ternyata dari Astra mereka sangat senang. 2 hari stelah itu mereka berangkat ke Jakarta. Berpamitan dengan orang tuanya dan tidak lupa pada Rehan, mereka semua menangis. Aldi dan Diki menitipkan pesan pada Rehan mereka berkata “ Kita tunggu di Jakarta “. Rehan tersenyum.
ini merupakan imajinasi saya membuat suatu sinopsis film yg berjudul "Sukses bersama meraih cita2"hanya butuh waktu setengah jam untuk itu(tidak lama bukan). Di sinopsis kita hanya perlu menuliskan hal2 yang perlu aja, sinopsis hanya untuk patokan untuk pembuatan skenarionya.
 
2.lankah berikutnya kita perlu menguraikan karakter tokoh yang ada dalam cerita 
contoh :
Rehan 
karakter pemain pemeran utama (pentagonis/baik hati)
Nama lengkap : Rehan Sudrajat
Nama panggilan : Rehan / Sibon
Usia : 18
hoby : sepak bola
agama ; islam
Fisik pemain : bersih, berkulit putih, tampan, sedikit pendek
penjabaran ini hanya untuk mencocokkan dengan talent yg akan berperan.
 
3.pada langkah ketiga kita akan membuat treatment/kerangka skenario
contoh :
01.EXT.Di tengah persawahan
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Berjalan dijalan setapak sebuah sawah, mereka akan menuju ke sebuah gubuk di tengah sawah.
02.EXT.Gubuk – pagi
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Duduk  di gubuk sambil bernyanyi dan  brtanya tentang cita-cita mereka bekerja di ASTRA.
03.EXT.Gubuk – siang
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Karena sudah siang mereka kembali pulang kerumah, Aldi melempar lumpur ke Rehan karena tidak terima Rehan melempar balik, Diki malah asyik duduk di pinggiran.
04.INT.Rumah – siang
Pemain : Diki & Aldi
Dirumah masing-masing, mereka mempersiapkan diri berganti baju dan membawa cangkul untuk membantu ayahnya  pergi ke sawah.
05.EXT.sawah milik orang tua Rehan – sore
Pemain : Diki
Berjalan dengan ayahnya, menuju ke sawah tanpa alas kaki mereka akan menggarap sawah milik ayah Rehan.
 
06.EXT.sawah – sore
Pemain : Aldi
Menaiki sepeda berboncengan dgn ayahnya, Aldi juga membantu ayahnya menggarap sawah milik ayah Rehan.
 
07.EXT.sawah – sore
Pemain  : Rehan dan ayahnya
Rehan dan ayahnya dating untuk melihat sawahnya yg sedang dikerjakan orang tua Diki da Aldi.
08.EXT.sawah – sore
Pemain : ayah Rehan
Karena sudah sore ayah Rehan menyuruh ayah Diki dan Aldi pulang dan melanjutkannya esok hari.
09.EXT.perjalanan pulang ke rumah – sore
Pemain : semua
Pulang bersama sama dengan, ayah Rehan mengajak keluarga Diki dan Aldi untuk makan bersama di rumah Rehan, namun mereka menolak.
10.INT.rumah Diki – malam
Pemain : Diki dan orangtua
Berkumpul dirumah yang kecil, untuk melakukan makan malam keluarga.
11.INT.rumah Diki – malam
Pemain : Diki dan Aldi
Aldi tiba-tiba datang dan mengajak Diki pergi ke kantor kepala desa, karena ada suatu pementasan drama.
12.EXT.rumah Rehan – malam
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Aldi dan Diki datang kerumah Rehan untuk mengajaknya nonton drama tersebut.
13.EXT.perjalan menuju kantor kepala desa – malam
Pemain : Rehan, Diki dan Aldih
Mereka penasaran dengan cerita tersebut, akhirnya mereka berlari sebelum drama dimulai.
14.EXT.tempat pementasan – malam
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Setelah sampai di tempat mereka duduk di tempat paling depan, mereka sangat memerhatikan cerita tersebut , drama tersebut bercerita tentang anak muda yang sukses dengan kerja keras itulah yang membuat mereka penasaran.
15.EXT.tempat pementasan – malam
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Setelah cerita usai, mereka berfikir dan menyimpulkan bahwa dengan berusaha dan tekat yang besar pasti akan meraih kesuksesan.
16.INT.rumah masing – masing – malam
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Sesampai dirumah mereka langsung belajar karena esok pagi mereka akan melakukan UN tingkat SMK.
17.EXT.berangkat sekolah – pagi
Pemain : Rehan, diki dan Aldi
Mereka saling menunggu di ujung gang desa mereka, jika sudah berkumpul mereka berangkat bersama.
18.INT.di sekolah – pagi
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Mereka merasa tegang, karena ini yang menentukan mereka untuk menggapai cita citanya. Rehan, Diki dan Aldi saling mendoakan satu sama lain.
 
19.INT.Sekolah-rumah-siang
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Diki melempar buah belimbing ke Aldi dan berlari, Rehan yang tidak tahu apa2 pun juga ikut berlari.
20.INT.di sekola-pagi
Pemain :  ayah dari Rehan, Diki dan Aldi
Orang tua murid datang ke sekola untuk menerima hasil UN. Rehan, Diki dan Aldi menunggu di luar sekola dengan raut wajah yang cemas.
21.EXT.sekola – siang
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Menemui ayahnya masing masing dan menanyakan hasil UN.
22.EXT.sekola – siang
Pemain ; Diki dan Aldi
Diki dan Aldi sangat senang karena mereka lulus dan hasilnya memuaskan, kepuasan itu menjadi lesu karena melihat Rehan yang menangis.
23.EXT.sekola – siang
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Diki dan Aldi menghampiri Rehan yang menangis dipelukan ayahnya, ternyata Rehan tidak lulus mereka terpukul dan ikut menangis.
24.INT.gubuk – pagi
Pemain : Rehan, Diki dan Aldi
Rehan masi sedih dengan hasil ujiannya, nmun Rehan berpesan agar cita2 Diki dan Aldi masi berlanjut. Diki bercerita ke rehan bahwa sebentar lagi Diki dan Aldi akan berangkat ke Jakarta dan bekerja disana.
 
25.EXT.rumah Aldi – siang
Pemain : Rehan, Diki, Aldi beserta orang tua mereka
Diki dan Aldi akan berpamitan ke Rehan kalau mereka akan berangkat ke Jakarta, suasana haru menyelimuti  perpisahan ketiga sahabat tersebut, Rehan berjanji akan menyusul Diki dan Aldi di ASTRA nanti.
 
dalam hal ini kita akan menjabarkan adegan per scene EXT(exterior)yang berarti pengambilan adegan dilakukan diluar ruangan dan INT(interior)yaitu pengambilan adegan di dalam ruangan. Proses ini membutuhkan ketelatenan namun jika dijalanin pasti mudah.
4.pada proses yang keempat yaitu skenarionyaa
ini yang paling penting karena disini otak kita harus sejalan dengan cerita, karena kita juga harus membuat dialognyaa, terserah kalian dialognya yang penting sejalan dengan cerita yang akan kita buat.
contoh : 


SKENARIO
 
01.ext.ditengah persawahan-pagi
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Kerangka scene : berjalan dijalan setapak, akan menuju gubuk ditengah sawah.
   Aldi : (sambil naik dipunggung Rehan) “ayoo Rehan, kamu jadi kudaku hahaha lari ayoo cepat-cepat!”
   Rehan : (raut wajah kecapek’an) Aldi!! Aku sudah capek (terengah-engah). Minta minumnya Dik!”
   Aldi : “adoohh, kamu gitu aja capek!payah kauu(sambil mengejek Diki)”
   Rehan “sudah-sudah kasian Rehan tuh, ini Han minumnya(memberikan minum pada Rehan)”
 
02.EXT.gubuk-pagi
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Kerangka scene : Mereke duduk didalam gubuk dan bercerita-cerita.
   Rehan : (berkipas-kipas sambil tiduran)”panas, capek hufftt tidur ahh.”
   Aldi : “hei-hei Rehan!baru nyampek uda mau tidur aja kamu, nggak ada semangat hidup sama sekali.”
   Rehan : “bodo amat, orang saya yang capek kenapa kamu yang sewot …..”
   Diki : “kalian ini sudah mau lulus sekola ingin masuk didunia kerja masihhh aja rebut kayak anak kecil.”
   Aldi :”pokoknya semua ini gara-gara Rehan!(sambil tertawa). Eh bentar lagi kan kita lulus nih pada nerusin kemana?
   Rehan :”loh kok aku??kalo aku sih sperti cita-citaku sebelumnya, saya ingin bekerja di ASTRA!kamu mau kemana Dik?”
   Diki : “Wahh sama dong, mending kita sama-sama kerja disana, agar kita tidak terpisah dan persahabatan kita dari kecil hingga dewasa tetap terjaga.”
   Aldi : “amiiinn!!mending kita usaha semaksimal dan semampu kita dan meraih kesuksesan bersama.!”
   Diki & Rehan :”pasti dehhh.”
 
03.EXT.Gubuk-siang
Pemain : Rehan,Diki, Aldi
   Karena hari sudah mulai siang, mereka memutuskan untuk pulang. Namun karena mereka bandel, mereka malah lempar-lemparan lumpur.
   Rehan :”Aldi!!!”(melempar Aldi dengan lumpur)
   Aldi : “aduuhh kurang ajar kau, terima pembalasanku.(samba mengejar Rehan)
   Diki :”ahh tersera kalian.”(capek memberitahu Rehan dan Aldi)
   Sesampai dirumah mereka memutuskan untuk mandi dan beristirahat dirumah mereka masing-masing yang jaraknya saling berdekatan.
 
04.EXT.sawah milik orang tua Rehan-sore
Pemain : Aldi dan Ayahnya, Diki dan Ayahnya
   Mencangkul disawah sambil bercerita-cerita.
   Ayah Aldi :”maaf Nak, bapak selalu membawamu ikut kerja Bapak, padahal kerja itu kewajiban Bapak.”
   Aldi :”iya Pak, emang kewajiban Aldi sebagai anak membantu Orang tua.”
Ayah Aldi :”Bapak hanya berharap dengan perjuangan ini, kamu bisa lebih semangat untuk meraih cita-citamu dan tidak menjadi seperti Bapakmu ini,”
   Aldi :”amiinn…Saya akan berusaha Pak”(menatap wajah Ayahnya)
   Ayah Aldi : (tersenyum dengan Aldi)
   Ditempat lain Diki dan Ayanya memanggil untuk mengajak istirahat dan makan bersama.
   Diki :”Aldi!!!!!!!”(berteriak)
   Aldi :”kenapa Dik?
   Ayah Diki :”yok kita makan bareng, sambil istirahat.”(membawa rantang makanan)
   Ayah Aldi :”waduhh Pak, ntar ngrepotin loh.”(wajah yang tidak enak)
   Diki :”ayooo makan, nggausa nunggu lama laper nihh”(sambil memegang perut)
   Aldi :”ayookk.”(sambil tertawa)
   Ayah Aldi dan Ayah Diki : “iya ayoo silahkan.”
 
05.sawah-sore
Pemain : Ayah Rehan dan AyahDiki dan Aldi
   Datang ke sawah untuk menemui mereka di sawah.
   Ayah Rehan :”wah enak nihh.”(melihat semua masih istirahat)
   Ayah Diki :”iya pak ini masih istirahat, baru aja kita selesai nggatap sawahnya.”
   Ayah Rehan :”iyaa pak, saya ingin memberikan sedikit rejeki.”(memberikan uang kepada Ayah Diki dan Aldi)
   Ayah Diki & aldi :”makasi banyak Pak.”(brjabat tangan)
  Ayah Rehan :”ayoo kita pulang.”
 
06.INT.rumah Diki-r.tamu-malam
Pemain : Diki dan Aldi
Diki memanggil Aldi dirumahnya, mereka ke alun-alun desa karena ada suatu pementasan drama.
   Aldi :”(mengetuk pintu rumah Diki)Diki…..3x.”
   Diki :”iya Al?ada apa?”
   Aldi :”ayokk kita ke alun-alun desa.”
   Diki :”ngapain?kita kan sama-sama cowok?”(bingung)
   Aldi :”aduuhh, aku masi normal taukk, kita kesitu mau nonton pentas drama.”
   Diki :”drama?”
   Aldi :”iyaa, ayoo buruan!”’
 Berlari ke alun-alun.
 
07.INT.Rumah Rehan-malam
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Mereka menuju kerumah Rehan, karena belum kmplit kalau belum ada Rehan.
   Diki :”Aldi, emang Rehan boleh keluar malam.”
   Aldi :”bolehlah, kata orang-orang sih drama ini bisa buat motivasi.”
   Diki :”okedeh terserah.”
Sesampai dirumah Rehan mereka memanggil Rehan keluar rumah.
   Aldi :”Dik!panggil dong!”(menyuruh Diki)
   Diki :”Rehan!!(brteriak kencang)
   Rehan :”saya sudah tau kalo kalian kemari.”
   Aldi :”sudaahh,ayoo jangan lama-lama.”(langsung berjalan menuju alun-alun)
   Rehan :”yeeeaaahh.”
 
08.EXT.tempat pementasan-malam
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Sesampai di tempat pementasan mereka langsung duduk berjejer dikursi paling depan.
   Rehan:”eh liat deh judulnya, kesuksesan di Usia muda.”(menunjuk ke spanduk)
   Diki :”wah jadi penasaran banget nihh??”
   Aldi :”wah kayaknya ini ceritanya buat kita banget deh.”
   Rehan :”diam-deh, udah mulai tuhh.”
 
09.EXT.tempat pementasan-malam
pemain : Rehan, Diki, Aldi
Setelah acaranya selesai mereka bergegas pulang untuk belajar. Namun mereka berjalan sambil menyimpulkan isi dari drama yang mereka tonton.
   Aldi :”menurut pemikiran saya, drama tadi itu menceritakan bahwa jika kita dipengaruhi kinginan yang kuat apa yg kita inginkan pasti bisa tercapai, bener nggak?”
   Diki :”wahh kayak guru bhs.indonesia aja kamu, tapi bener juga sihh.”
 
10.EXT.gang didekat ruamah-malam
Pemain :Rehan, Diki, Aldi
Mereka saling member semangat karena besok pagi mereka akan mengahadapi Ujian Nasional.
   Rehan :”kita besok harus perang dengan soal, aku mau pulang dulu.”(berjalan ke arah rumahnya)
   Aldi :”iyaa nihh, belajar dan berdoa.”
   Diki :”yasudahlah, besok pagi kita kumpul di gang ujung yaa.”
 
11.EXT.berangkat sekolah-pagi
Pemain  :Rehan, Diki, Aldi
  Berkumpul di ujung gang, dan berangkat ke sekolah bersama.
   Rehan :” yook berangkat.”
   Diki :”ayookk, kalian sudah siap kaan?”
   Aldi :”pastilah, pasti bisa”(sambil bergurau)
 
12.INT.sekolah-pagi
Pemain : Rehan, Diki, Aldi beserta Ayahnya masing-masing
Selang beberapa minggu, orang tua mereka dikumpulkan di sekolah untuk menerima pengumuman hasil Ujian Nasional.
   Rehan :”moga-moga aja kita lulus semua.”
   Aldi :”amiinn…”
   Diki :”sudah nggak sabar nerima hasilnya nihh.”
Beberapa menit kemudian ayah mereka datang keluar ruangan dengan membawa surat hasil pengumuman kelulusan.
   Diki :”bagaimana Pak?apakah saya lulus?”(sambil meminta kertasnya)
   Ayah Diki :”iyaa Nak..kamu lulus.”(memeluk Diki)
   Diki :”Alhamdulillah”(Diki menangis terharu)
Aldi menuju depan pintu untuk mencari Ayahnya. Setelah bertemu Aldi meminta kertas pengumuman yang ada ditangan Ayahnya.
    Aldi : ”Bapak !!bagaimana hasil pengumumannya Pak?”
    Ayah Aldi : ”Alhamdulillah Nak, kamu lulus dengan nilai yang sangat baik.”
    Aldi : (raut wajah gembira)”yok Pak kita kesana menemui Diki”
Berbanding terbalik dengan yang lain Rehan yang ditemui Ayahnya kaget dan tidak bisa menahan sedih karena ia satu-satunya siswa yang tidak lulus dalam ujian nasional disekolahnya.
   Ayah Rehan : (datang dan memeluk Rehan)”yang sabar ya Nak, mungkin kamu tidak beruntung.”
   Rehan :”maksud Bapak?”(bingung)
   Ayah Rehan :”kamu tidak lulus Nak?”
   Rehan : (tertunduk lesu)
Diki dan Aldi datang menemui Rehan dan berusaha untuk memberikan semangat lagi untuk Rehan.
   Diki :”Rehan,  jangan sedih mungkin ini awal dari kesuksesanmu.”
   Aldi :”perjalanan masih panjang Han, ayoo semangat!!”
   Rehan :(tersenyum)”terima kasih teman-teman,kalian memang teman terbaikku,.”
 
13.EXT.gubuk-pagi
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Seperti biasa mereka saling mencurahkan isi hati di gubuk itu. Rehan yang sebelumnya sedih sudah bisa tersenyum lebar.
   Rehan :”setengah perjalanan kalian kan sudah tercapai nih, gimana dengan tujuan awal kalian kerja ke ASTRA.”
   Diki :”iyaa kita berdua masih mencari informasi.”
   Aldi :”seperti perkataan saya dulu, dengan keinginan yang kuat pasti bisa tercapai !!”
   Rehan :”amiinn..saya sangat mendukung !!”
 
14.INT.rumah Diki dan Aldi
Pemain : Diki dan Aldi
saat mereka dirumah mereka mendapat kiriman dari tukang pos yang ternyata isinya surat panggilan kerja dari ASTRA.
   Diki :”Pak, Diki dapat panggilan kerja dari ASTRA.”(wajah tidak percaya)
   Ayah Diki :”Alhamdulillah Nak, cita-citamu tercapai juga.”(memeluk Diki)
Tiba-tiba Aldi datang dan bicara bahwa dia juga diterima di ASTRA.
   Aldi :”Diki!!, kamu juga dapat lembaran ini?”(memperlihatkan lembaran itu)
   Diki :”iyaa nih, wahh brarti kita bisa berangkat bareng nih.”
   Aldi :”akhirnya cita-cita kita bisa tercapai juga.”
 
15.EXT.dirumah Diki-pagi
Pemain : Rehan, Diki, Aldi
Mereka berkumpul di rumah Diki utk berpamitan krn mereka akan berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerjanya
   Ayah Diki :”kerja yang giat ya Nak, keja yang rajin.”
   Diki :” iya Pak”(mencium tangan ayahnya)
   Rehan :”capailah cita-cita kalian disana, raihlah kesuksesan, suatu saat aku akan menyusul kalian.”
   Aldi :”pasti Han, walaupun hanya kita berdua yang berangkat.”
   Aldi & Diki :”selamat tinggal semua, assalamualaikum’’(meninggalakan semua)

sangat panjang dan lamaa, butuh waktu lama untuk menselarasakan ceritanya jika imajinasi kita masih konek pasti cucokk dehh.

gimana andaketagihan untuk mencoba?maslah produksi itu gampang kamera apapun asalkan gambarnya bagus ntar kalo di edit pasti menarik, jika sudah kita simpan datanya karena ini sngat penting jika kita melamar kerja di stasiun televisi/rumah produksi. Kalo kita ingin kerja di stasiun TV nilai atopun gelar itu bukan jaminan melainkan kita h

Menghargai Sineas Indonesia Dengan Cara Membuat Film Sendiri

Penulis : Hazmi Srondol

Sudah beberapa kali aku menolak ajakan istriku menonton bioskop di bioskop. Apalagi kalau filmnya yang berbau setan-setan. Disamping kadang merasa rugi, sudah membayar penuh—toh didalam bioskop istriku malah ngumpet dan nonton sambilndepipis nggak jelas. Kalau boleh kuhitung, durasi matanya menatap layar bioskop hanya sekitar 30% sd 50% saja dari durasi keseluruhan film.

Ya itulah fakta dunia film Indonesia, isinya gitu-gitu aja. Kalau nggak soal buka paha ama dada ya hantu dengan muka rusak dengan berbagai  jenisnya. Kalaupun ada yang bagus, itu hanya sesekali. AADC, Petualangan Sherina, GIE, Laskar Pelangi, #republiktwitter dan lainnya. Yang lainnya ini pun juga rentangnya jauh dan masih tidak sebanding dengan film nasioanal yang masuk kelas tidak bermutu dimataku ini. Pokoknya jauh dari film-film Hollywood yang sering aku tonton.
Itu baru dari segi hasil, dari segi biaya pembuatannya pun kadang membuatku makin sebal. Mosok film begitu-begitu saja kok biayanya sampai 3 atau 5 milyar rupiah. Bahkan ada yang konon sampai 33 milyar. Belum lagi aku pernah mendengar bahwa editing film itu mesti ke Bangkok, Thailand. Kayak di Indonesia tidak ada yang bias ngedit saja.  Weleh-weleh.  Jangan-jangan para kru nya korupsi neh, cuman mau nyedotin uang produsernya saja. Dan beraneka macam pikiran negative ini semakin menguasai pikiranku terhadap dunia film, sinamatografi dan sejenisnya beserta mahluk-mahluk yang ada didalamnya.

Namun, mendadak pikiran jelekku itu bubar dan berubah haluan menjadi kekaguman yang luar biasa kepada film nasional beserta kru-nya. Penyebabnya sederhana saja. Itu gara-gara Babeh Helmi, yang memang  berkerja di bidang editing film secara sengaja atau tidak sengaja, pernah mengkomentari soal kamera DSLR ku yang sebenarnya entry level  ini bias digunakan untuk membuat sebuah film.
Dan akupun mendadak pengen membuat film sendiri. Setidaknya film pendek.

Sikap dadakan ini semakin bersemangat  saat melihat beberapa informasi terkini dari dunia blogging jika dunia video blog sedang merajalela  di dunia. Situs situs video seperti Youtube dan Vimeo bahkan semakin padat pengunjung. Bahkan Vimeo bulan Feberuari 2012 ini menggelar festival dengan hadiah ribuan dollar untuk tiap katagori. Wuuiiih!

Lalu fenomena ini membuatku mengerti  kenapa ada operator telekomunikasi begitu konsen dengan dunia broadband dengan disiapkanya infrastuktur penunjang dunia video blogging ini.  Rupanya memang gejala ini sudah diendus oleh para pakar dan ahli IT-nya.

Dari keinginan membuat film pendek ini pun akhirnya muncul berbagai macam masalah. Apalagi proses produksinya hanya dilakukan seorang diri. Dari bingungnya memilih tema dari ratusan cerita humor yang kutulis di  blog Kompasiana ini. Hingga teknis-teknis lainnya seperti  bagaimana dan siapa yang mengambil gambarnya? Bagaimana editingnya dan lain sebagainya.

Aku jadi ingat, saat itu aku memilih tema ‘Janji Bukan Lelucon’ karena mendadak memang Om Dian Kelana mendadak meneleponku dan menanyakan rencana perjalananku ke Malaysia. Di ingatkannya akan novel pesanan Anazkia di KL, Malaysia yang belum tersampaikan ke pemiliknya. Padahal buku itu sudah dipesannya sejak setahun yang lalu.  Nah, daripada nggak jadi-jadi, aku memutuskan tema dokumentasi penyerahan  buku inilah yang pertama kali akan aku buat secara serius.

Dari tema dasar itu, aku segera mempersiapkan diri. Story board sudah aku buat, scenario secukupnya karena hanya film documenter, clapper juga download dari Galaxy Tab punya istri, monitor TV mini 7” lalu aku beli agar memudahkan melihat hasil shootingnya, rig kamera, filter NDX (Natural Density) beserta filter-filter lain hingga tripot. Untuk micropone-nya kebetulan tidak ada colokan external mic dari kameranya hingga akhirnya aku mengakali dengan memasang ‘deathcat’ dari potongan boneka berbulu.

Nah, akhirnya aku mencicil pengambilan gambar. Kamera aku pasang diatas tripot dan monitor TV mini aku hadapkan ke arahku sendiri. Sesekali aku minta tolong kawan yang sama-sama pergi ke KL untuk memegang kameraku dengan kamera yang sudah aku set dengan ukuranku. Cuman memang hasilnya tidak sesuai dengan kemauanku. Bahkan focusing kamera saat kamera dan tripot aku pasang diatas trolly tampak kurang tajam. Tapi tak apalah, sudah mending ada yang mau mendorongkan trolly daripada tidak sama-sekali.

Lebih repotnya, saat pengambilan gambar di Central Market/Pasar Seni Kuala Lumpur dengan mbak Anazkia, kami didatangi RELA yang dengan halus melarang penggunaan tripot di sekitar area luar pasar tersebut. Untungnya sebelum diingatkan sudah sempat ambil gambar. Hehehhe. Kalau nggak, bisa gagal total ini film pendek. Jadi paham sekarang kenapa mas Ajish Dibyo sang producer film #republiktwitter menyebutkan tentang ‘ijin’ ini saat kumpul-kumpul di Anomali cafĂ© beberapa waktu sebelum peluncuran filmnya itu.
 1330607997171068001
Nah, untuk sesi pembuka yang juga merupakan pengambilan gambar terakhir yaitu saat adegan  Om Dian meneleponku soal Novel yang belum terkirim itu pun juga bukannya tanpa masalah. Saya mesti meminta tolong om Dian untuk mengulang telefonnya untuk direkam dalam waktu yang sangat sempit.

Maklum lokasi janjian perekaman ini, Om Dian Kelana hanya punya sekali kesempatan untuk direkam karena beliau mesti segera masuk ke FX Plaza karena sudah di tunggu Omjay yang sedang ada acara bersamanya. Untung saja Om Dian sangat profesional, sekali ambil gambar langsung jadi. Weleh-weleh ternyata berbakat besar jadi actor juga datuk nya Thole yang satu ini.

Nah, setelah semua bahan gambar terkumpul, muncul masalah besar lainnya yaitu editing. Software editing video yang aku punya tidak bisa berjalan dengan sempurna pada file HD 720p karena PC yang aku punya hanya ber’kekuatan’ prosesor 3,4 Gbyte dan memory RAM hanya 4 Gb. Sempat terfikir membuat gerakan KOIN UNTUK MACBOOK SRONDOL lewat hastaq #koin4macbooksrondol di twitter, kok ya nggak ada yang mendukung malah diomelin istri karena malu-maluin.

Ya sudah, mimpi film short movie berkualitas HD buyar dan semua  file di convert pada file .avi yang lebih rendah kualitasnya. Itupun sempat beberpa hari kepala pening dan perut mulas karena sudahnya mereduksi suara berisik (noise) di adegan tersebut. Belum lagi pengisian narasi juga kurang sempurna.

Akhirnya, dengan hasil apa adanya ku upload juga film pendek pertamaku ini. Aku menontonnya sendiri sambil mengkoreksinya,.

Aduhai alamak! Banyak sekali kekurangannya. Imajinasi tidak sebanding dengan hasil nyata.
Pikiranku langsung melayang, terbayang mbak Riri Reza, mas Hanung Bramantyo, bang Rano ‘doel’ Karno, Garin Nugroho dan semua insan film di Indonesia. Aku yang hanya membuat film pendek saja sudah pusing luar biasa dan keluar biaya yang tidak sedikit untuk alat-alat. Itupun komputer untuk editing yang mumpuni belum terbeli. Lha bagaimana mereka?

Mereka yang memang dunia dan hidupnya membuat film. Bukan hanya 8 menit tapi 60 atau bahkan 120 menit per filmnya dengan tema dan adegan yang tentu jauh lebih rumit. Belum lagi pemilihan dan eksekusi shooting adegan dengan pemeran yang berbagai macam. Aku saja yang memakai anak sendiri untuk adegan 20 detik sebelum film usai repotnya setengah mati. Dari anak yang ngambek nggak mau di sinari lampu hingga protes karena mesti mengulangi kalimat yang pernah diucapkannya secara spontan.

Kini apapun jenis filmnya. Mau horror maupun drama, sekarang aku tidak peduli lagi. Yang aku tahu, kini aku sangat menghargai kerja keras dan keahlian para sineas Indonesia baik yang mayor label hingga indie yang sungguh luar biasa. Beserta para produsernya yang rela mengucurkan dana-nya untuk membiayai terwujudnya imajinasi dalam bentuk gambar bergerak (film).

Nah, jika ada yang masih sinis dengan film dan pekerja film nasional. Yuk coba buat film pendek sendiri, dan rasakan sensasinya.
Sensasi SUSAH luar biasa…!

Pengen Membuat Film Sendiri?



bisnis-jabar.comOleh Abdalah Gifar

Beberapa tahun ke belakang, dunia fotografi adalah suatu bidang yang masih terbatas dan asing bagi sebagian besar orang. Namun saat itu muncul suatu keyakinan dari para praktisi fotografi, kelak setiap orang bisa menjadi fotografer.

Nyatanya hal tersebut telah terbukti kini. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah memudahkan setiap orang untuk menggelutinya sebagai profesi ataupun sekadar hobi.

Hal serupa berlaku terhadap dunia film. Produksi film yang identik dengan budget tinggi, untuk penyediaan kamera film dan sebagainya, kini sudah tidak berlaku lagi. Perkembangan kamera fotografi yang kini bisa juga merekam video dengan kualitas tinggi, telah memudahkan setiap orang untuk membuat film. Setelah sebelumnya pun, orang-orang bisa membuat film hanya dengan kamera
handphone.

Lalu setelah alat sudah ada ditangan, kira-kira apa lagi yang harus dipersiapkan untuk membuat film yang berkualitas? Berikut langkah-langkah untuk mewujudkan film yang Anda inginkan.

Buat cerita yang memang perlu untuk difilmkan. Kita harus punya motif dalam menentukan cerita yang akan diangkat. Tentukan inti ceritanya, sebaiknya dalam satu atau dua kalimat saja.

Tulis skenario dari cerita yang sudah matang karakter tokohnya dan konflik ceritanya. Secara teknis, tulis skenario tersebut dengan bahasa aksi atau visual, bukan deskripsi.

Breakdown script. Cacah skenario sehingga segala kebutuhan film yang perlu dipersiapkan kru di setiap bidang, bisa diketahui. Anggaran dana yang dibutuhkan dapat dianalisis dari sana.

Recce. Cari, tentukan, dan eksplorasi lokasi yang sesuai atau mendekati dengan cerita Anda.

Reading. Latihlah pemain film Anda agar menjiwai karakter dari tokoh yang akan difilmkan. Coba juga pemain Anda beradegan di lokasi yang sudah ditentukan.

Action Movie FX: Buat Sendiri Efek Holywood-mu

Pernahkah terbayangkan olehmu bagaimana cara para sineas-sineas top Holywood membuat efek animasi yang begitu keren seperti mobil yang meledak begitu hebatnya atau meteor yang menubruk Bumi kemudian semuanya tinggal serpihan saja? lebih baik jangan membayangkan cara membuatnya karena pasti memusingkan bagi yang tidak biasa. Namun, jangan khawatir. Apabila kamu ingin membuat sendiri efek-efek seperti itu, there’s an app for that…
Action Movie FX: Buat Sendiri Efek Holywood-mu
Introducing, Action Movie FX. Aplikasi besutan Bad Robot Interactive ini akan memberikan efek ala Holywood seperti tembakan rudal hingga mobil yang berguling kedalam video pribadimu. Aplikasi ini akan amat berguna bagimu yang sudah bosan merekam video dengan hasil yang biasa-biasa saja. Dan aplikasi ini akan sangat amat berguna, apabila kamu ingin membuat lelucon dengan kawan-kawanmu.
Tampilan antarmuka yang ramah dan tidak memusingkan juga menjadi salah satu nilai plus bagi aplikasi yang mendapatkan rating 5 di Apps Store ini. Untuk mulai merekam, kamu hanya perlu men-tap icon Go pada menu home aplikasi ini. Setelah itu, kamu akan dihadapkan dengan beragam efek yang ada pada aplikasi ini. Efek tersebut tampil dengan konsep cover flow, dan kamu hanya perlu memilih kira-kira efek apa yang akan kamu gunakan. Setelah memilih, akan muncul Director’s Note yang berisikan demo efek pilihanmu dan juga tips menggunakan efek tersebut. Apabila sudah siap, katakan action dan mulailah merekam.
Action Movie FX: Buat Sendiri Efek Holywood-mu
Audio yang dihasilkan oleh Action Movie FX patut diacungi jempol, pasalnya, suara yang dihasilkan oleh masing-masing efek begitu realistis. Bad Robot Interactive bekerja sama dengan Skywalker Sound dalam pembuatan audio untuk masing-masing efek didalamnya.
Untuk saat ini, Action Movie FX tersedia sebagai aplikasi gratis di Apps Store, namun tampaknya akan segera menjadi berbayar karena dalam laman aplikasi tersebut tertulis Free for a limited time. So, grab it fast dude…
Action Movie FX: Buat Sendiri Efek Holywood-mu
Action Movie FX menyediakan 4 efek bawaan yang dapat kamu gunakan dengan gratis setelah kamu mengunduh aplikasi ini. Tapi, apabila kamu merasa tidak puas dengan aplikasi yang tersedia, kamu bisa membelinya di New FX Shop. Okay, sekarang saya akan coba bahas mengenai efek apa saja yang ada didalamnya.

Missile

Efek missile atau rudal adalah efek yang berada diurutan pertama daftar efek Action Movie FX. Dengan efek ini, kamu bisa menciptakan adegan dimana objek yang kamu rekam, meledak hingga mengeluarkan asap hitam akibat tembakan rudal. Baiknya, ketika kamu menggunakan efek ini, targetkan kamera ke objek-objek seperti mobil, rumah, ruang tamu, atau bahkan kandang ayam seperti yang saya hadirkan dalam video dibawah ini. Yang saya senang dari efek-efek di Action Movie FX adalah scene yang selalu berakhir dengan layar hitamnya.

Car Smash

Salah satu efek favorit saya di Action Movie FX. Dengan efek ini, kamu bisa membuat sebuah adegan dimana tiba-tiba, sebuah mobil hitam besar berguling dengan hebat tepat kearahmu. Efek debu sebelum mobil tersebut berguling juga amat nyata. Baiknya, kamu menggunakan efek ini ketika sedang berada dijalan raya yang kosong, apalagi saat ini Jakarta sedang sepi bukan? ya, tapi hati-hati yah ketika mengambil video di tengah jalan raya.

Demolition Rock

Nah, ini adalah efek yang paling mengaggetkan di Action Movie FX. Bagaimana tidak? coba rekam video temanmu yang sedang duduk dengan tenang dan kemudian, tambahkan efek Demolition Rock ini kedalam video temanmu itu. Sebuah batu besar akan menimpanya secara tiba-tiba, dibarengi dengan efek lantai retak akibat tertimpa batu tersebut. Tapi, dalam video yang saya hadirkan ini saya tidak menghadirkan teman saya sebagai objek karena mereka tidak ada yang bersedia menjadi objek efek Demolition Rock ini.

Rough Terrain

Efek gratis terakhir yang ada di Action Movie FX. Efek ini menurut saya amat cocok kamu tambahkan kedalam video yang kamu ambil didalam rumah. Efek ini menghadirkan adegan dimana batu-batuan besar seperti batu pecahan sebuah tebing runtuh tepat kearahmu. Seperti Car Smash, dalam efek ini juga terdapat debu-debu yang datang bersamaan dengan batuan-batuan tersebut. Coba rekam video ruang tamu rumahmu dan tambahkan efek ini, kemudian perlihatkan kepada siapapun. Mungkin mereka tertipu ketika kamu bilang “eh, rumah gue kemarin roboh…!!!”.
Selain keempat efek yang telah saya bahas diatas, masih banyak lagi efek lainnya yang bisa kamu beli di New FX Shop seperti: Meteor From Outer Space, Electro Strike, Flash Flood, Ground Sucker, The Jet, Power Failure dan banyak lagi.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, aplikasi ini amat sangat menghibur. Bagaimana tidak? jika kamu adalah orang dengan tipikal iseng, maka kamu bisa saja menjahili kerabat maupun sahabatmu dengan aplikasi ini. Bagi kamu yang bercita-cita menjadi sineas muda, aplikasi ini juga amat tepat karena bisa menjadi media latihan sebelum benar-benar terjun ke dunia perfilman. Namun, saya tidak memiliki keinginan menjadi sineas muda jadi, tipe yang pertama lebih tepat dengan kepribadian saya.

10 Tips Membuat Film Pendek

Membuat film kita lebih OK!.
Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus kita perhatikan dalam membuat film pendek. Dengan mengikuti langkah-langkah yang akan diuraikan ini, maka kita dapat mengurangi beberapa hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Meskipun begitu, ini merupakan saran-saran saja, dan dapat dikembangkan berdasarkan keahlian dan pengalaman. Take a look..
 

1. Apakah film Anda layak ditonton
Sebelum semuanya dimulai, maka selayaknya kita bertanya: apakah semua orang pasti menonton film yang akan kita buat ?. Jawabnya, No!. Artinya tidak semua orang �pasti� akan menonton film kita. Sebelum menulis skenarionya, mari tanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu; mengapa orang harus menonton film yang akan kita buat.
 

2. Jangan mulai produksi tanpa adanya budget
Film, meskipun sederhana sangat membutuhkan biaya!. Besar biaya memang tidak terbatas, bisa besar bisa kecil. Dengan membuat prakiraan biaya (budget), maka kita akan lebih tahu apa yang harus kita lakukan dengan uang yang dimiliki. Produksi tanpa budget menyebabkan rencana-rencana tidak bisa diprediksi. Apalagi jika uang yang tersedia tidak mencukupi, bisa-bisa film yang sedang dikerjakan tidak selesai-selesai.
3. Minta persetujuan pihak-pihak yang terlibat
 

Sebelum shooting dilakukan, ada baiknya meminta persetujuan tertulis dari pihak-pihak yang terlibat didalam film, seperti aktor/aktris, music director, artwork, sponsor, atau siapa saja yang ingin berkontribusi. Bereskan dulu semua ini!. Karena kalau memintanya saat shooting dimulai, maka �kemangkiran-kemangkiran� dari pihak-pihak tersebut akan terasa sulit dimintakan pertanggung jawabannya. Maka, do it Now!.
 

4. Buatlah film pendek memang pendek!
Penulis naskah dan/atau sutradara harus bisa memenuhi standar yang menyatakan bahwa sebuah film adalah film pendek. Bertele-tele dalam penyajiannya akan membuat penonton bosan. Jika itu film pendek..maka harus pendek. Meskipun sulit, tapi memang harus begitu. Standar film pendek adalah maksimal berdurasi 30 menit!.
 

5. Jika memakai aktor yang tidak professional, maka lakukan casting
Tidak lepas kemungkinan film pendek dibintangi oleh aktor/aktris yang tidak professional (amatir). Ini sih wajar-wajar saja. Apalagi mereka (mungkin) tidak dibayar. Tapi untuk memilih karakter-karakter pemain yang sesuai, wajib melakukan pemilihan peran (casting). Jangan memilih orang sembarangan apalagi casting baru akan lakukan beberapa saat menjelang shooting. Berbahaya!.
 

6. Tata suara sebaik-baiknya
Tata suara yang buruk pada kebanyakan film pendek (meskipun memiliki konsep cerita menarik) menyebabkan tidak nyaman ditonton. Gunakan perangkat pendukung tata suara seperti boom mike untuk mendapatkan hasil yang baik. Kalau gak punya, beli atau pinjam aja�
 

7. Yakin OK saat shooting, jangan mengandalkan post-production
Saat ini semua film kebanyakan dikerjakan dengan kamera digital. Maka tidak sulit untuk memeriksa apakah semua hasil shooting sudah memenuhi sarat atau belum dengan melakukan playback. Periksa semua! frame dialog, tata suara, pencahayaan atau apa saja. Apakah sudah sesuai dengan kualitas yang diinginkan ?. Sangat penting; periksa setelah shooting, bukan pada saat paska produksi.
 

8. Hindari pemakaian zoom saat shooting
Kameraman yang baik adalah yang bisa mengurangi zooming. Kecuali bisa dilakukan dengan sebaik mungkin. Mendapatkan gambar lebih dekat ke objek sangat baik menggunakan dolly, camera glider, atau lakukan cut and shoot!.

9. Hindari pemakaian efek yang tidak perlu
Sebuah film pendek banyak mengandalkan efek-efek seperti; memulai film dengan alarm hitungan mundur (ringing alarm clock), transisi yang berlebihan seperti dissolves/wipe, dan credit titles yang panjang. Pikirkan dengan baik, apakah hal-hal ini perlu ditampilkan atau tidak. Pilihan yang sangat bijak jika semua itu tidak terlalu berlebihan.
 

10. Hindari shooting malam di luar ruang
Suasana gelap adalah musuh utama kamera (camcorder). Pengambilan gambar diluar ruang pada malam hari sangat membutuhkan cahaya. Apabila tidak menggunakan lighting yang cukup maka hasilnya akan jelek sekali. Meskipun dapat melakukan color correction pada saat editing, tapi sudah pasti dapat menyebabkan noise dan kualitas gambar menjadi drop. Paling baik adalah merubah skenario menjadi suasana siang hari. Tidak akan mengganggu cerita toh?.